Sampeyan tahu Google? Kalo gak tau, silahkan googling dulu (njuk piye jal?)
Singkatnya, Google adalah situs pencari. Sebuah situs yang memungkinkan kita menemukan artikel, atau media yang kita cari di internet. Umumnya berupa referensi. Tidak termasuk menemukan kambing, motor, atau harta sampeyan yang hilang.
Halah, ribet bener… Wes pokoke saya kali ini pengen ngomongke Google. Dan saya yakin hampir semua yang kenal internet, pastilah kenal Google.
Google mungkin sudah menjadi andalan kita dalam mencari informasi. Dan tanpa sadar, sebagian dari kita sudah terlalu Google minded. Setiap mau menentukan langkah, pasti googling dulu. Mau beli suatu produk, cari tempat makan, menentukan kredibilitas atau background sesuatu atau seseorang, dan laen-laen nya. Dengan cepat dan mudah, Google akan menemukan referensinya untuk kita.
Tapi tahukah sampeyan? Kalo Google terkadang “menyesatkan” dengan memberi referensi yang tidak sesuai kenyataan.
Ambil contoh begini, saya mau beli sepeda merek A, tipe B. Agar mantab dan tidak menyesal sewaktu membelinya, saya pun googling untuk mencari kelemahan sepeda merek A, tipe B. Dengan cepat Google menemukannya, kalau sepeda itu rantainya cepat putus. Saya percaya, dan mengurungkan niat membeli sepeda itu. Tapi, tak berapa lama, ada teman saya yang membeli sepeda itu, dan kelemahan yang direferensikan Google, kalok rantainya cepat putus tidak terjadi pada sepeda temen saya. Wah, Google ngawur dong ngreferensikan nya?
Namanya Google juga cuma sebuah alat, sebuah mesin. Sudah barang tentu, sifatnya pasif. Hanya memproses apa yang kita masukkan. Jadi dituntut keaktifan kita buat memilah dan memilih referensi mana yang bener, gak bener, atau referensi basi. Buat mendapatkan hasil yang paling akurat. Ini ada sedikit share dari pengalaman googling saya dalam mencari referensi produk.
Pastikan Referensinya Tidak Basi
Pilihlah referensi yang terbaru. Karena seiring berjalan nya waktu, referensi itu terkadang sudah tidak relevan lagi. Pada contoh kasus sepeda tadi, referensi yang ditunjukkan Google menjadi tidak relevan. Karena sang produsen sudah menyadari kelemahan produknya dan memperbaikinya. Atau malah sebaliknya, bisa makin parah karena sang produsen ingin mengambil margin keuntungan yang lebih besar.
Cari Referensi Yang Dibuat Paling Dekat Dengan Kita
Ini berlaku apabila kita mencari referensi produk yang mereknya sudah mendunia. Bisa jadi, dengan merek sama, produk yang dipasarkan di Eropa kualitasnya jauh lebih bagus dari yang dipasarkan di Asia, ataupun sebaliknya. Alasannya bermacam-macam, bisa karena alasan promo, permintaan pasar, ataupun standar pabrik yang berbeda (umumnya, produk yang dipasarkan secara global, memiliki tidak hanya satu pabrik di satu tempat saja). Jadi, referensi yang dibuat paling dekat dengan kita seringkali adalah yang paling relevan.
Pastikan Bukan Iklan Terselubung
Seringkali, referensi yang kita dapat hanyalah iklan terselubung, ataupun review yang berat sebelah, karena telah disponsori produsen. Tentu saja, hal ini kurang baik untuk dijadikan referensi. Lha, cara mengetahuinya? Gampang! Perbanyak referensi, dan lakukan cross check. Juga pastikan referensi itu tidak hanya memuat yang bagus bagus saja. Referensi yang tanpa memuat kelemahan, hampir bisa dipastikan disponsori!
Jangan Percaya Fanatisme
Fanatisme seringkali mengesampingkan kenyataan. Jadi, sebisa mungkin carilah referensi yang ditulis oleh kaum yang netral. Bukan fans club dari suatu merek, misalnya.
Dah, itu wae. Semoga, share saya ini ada gunanya. Happy googling and keep wise!
Ameh tuku pit opo? Neng gang buntu yo ono tunggangan tapi udu pit e..
Py?
Opoh iki?
Ga mudeng aq ki
Kalau ga salah, dengan sering googling kita ikut serta dalam usaha menghancurkan dunia….
saya baca di http://bakawan.com/log tentang green IT….
ada tanggapan?
mbahas opo to iki? gugel po pit je? 😛
“Sampeyan tahu Google? Kalo gak tau, silahkan googling dulu”
haha… lumayan pagi2 bikin ketawa :))
wah… dadi kelinagn pit jowo bututmu mid, piye kabare pitmu kae ya? :p
wah,kadang g mikir sampe segitunya e mas.. kulo madep mantep nderek mbah google,hehe…
@imam
hamed due pit jowo butut po..?
wah mesti liat ki…
pengen ndelok hamed numpak pit jowo butut..
ngahahhahaha…
pite dinggo nang sekolah pas jaman kelas 1 sma..
Setidaknya aku iso ngepek jawaban nggo gugel..
Bkiki
walo blum tentu betul
google bukan search engine terbaik, coba aja cari dengan kata kunci “search engine” di google, yang tampil di urutan pertama itulah search engine yang terbaik, bukankah begitu trendnya untuk saat ini? trend dimana orang-orang ingin tampil di urutan pertama SERP 😛
hohohohohohoh
ngeri…
nek pit cedak nggone kang hamid wisben ono bakul pit gapsta
nek ga neng pojok prapatan kae…
hamid ameh tuku pit lowrider…
=))
Afa afa an ini
jangan salahin google… salah sndiri mau diboongin google 😀
google apa sih? :”>
silahkan dicoba googling dengan kata kunci : JODOKU SOPO YO?
Lalu kenapa banyak yang memakai sebutan “om” atau “paman” ke google seperti : “Cari saja di paman google.”
…?
Lha nek arep tuku pit opo yo ndadak ng-Google barang mas? Nek aku yo takon karo bakul pit wae neng pasar. 🙂
we e e e. ada orang kondang sampek sini.
anu Kang Nur, cuma misalkan… nek perkara sepeda Mangiran tetep paling TOP!
kalo dari google, permalink situs kan sudah makin “cantik-2” dan “ringkas” sekarang. tapi IMO, justru informasi waktu di URI masih penting utk dijadiin referensi basi ngganya produk dan review-nya. cmiiw 🙂
Sepertinya google mulai aeng aeng nih hehehe
84041 1609I like this post, enjoyed this 1 appreciate it for putting up. 111108