Sebagian teman-teman, dan mungkin juga pembaca blog ini –kalau ada–, yang mengenal soal duit dan lembaganya –bukan kaya lho ya?– mungkin tahu, betapa susahnya jalan menuju kemakmuran itu, terutama di Indonesia Raya ini.
Bayangkan, untuk mendapatkan bantuan modal dari bank, meskipun mempunyai agunan yang mencukupi, tetep saja harus sudah punya usaha atau gaji tetap. Nah lho? Bagaimana kalo orang yang mau memulai usahanya? Sebentar, sebentar. Bukankah ada pegadaian yang bermoto mengatasi masalah tanpa masalah itu? Justru tambah masalah, terutama bagi yang ekonominya lemah, menurut saya. Lha kok? Saya ilustrasikan begini.
Saya, adalah seorang yang pinter masak bakmie, masakan saya banyak yang bilang enak, dan saya yakin, kalau buka warung bakmie, pasti laris manis, dan warung itu bisa mengangkat kondisi ekonomi keluarga saya.
Saya pun dengan tekat bulat dan keinginan kuat, membawa BPKB motor saya ke bank, mengutarakan maksud saya, dan mengajukan kredit. Karena saya belum punya gaji tetap, dan belum punya usaha, pihak bank menganggap saya tidak mampu membayar cicilan, sehingga kredit saya ditolak.
Lalu, ada teman saya yang bilang, mas, di pegadaian semua orang boleh pinjem. Coba saja kesana. Dan saya pun pergi kesana. Saya utarakan juga maksud saya sama pegawai nggadhen itu. Dan benar saja, prosesnya mudah, lima menit langsung cair, ndak perlu punya slip gaji atau ijin usaha dan tetek bengeknya. Tapi, lho? Kok motor saya juga harus ditinggal? Lha saya ke pasar nya pakek apa?
Dua tempat saya datengi, keduanya tidak bisa memecahkan masalah. Lalu, kemana saya mesti pergi? Saya pernah denger soal “pegadaian swasta” yang bisa memberikan pinjaman ndak pake ribet, bisa dengan cuma meninggalkan BPKB motor saya tanpa motornya, jadi saya bisa tetep kulakan ke pasar. Tapi mereka minta jasa, 10 persen atau lebih per bulannya. Lha kapan lunasnya? Penghasilan saya paling-paling hanya cukup untuk makan harian dan bayar jasa…
Dari ilustrasi ngawur di atas, saya kira teman-teman sudah bisa menangkap maksud saya. Lha terus? Solusinya apa? Ha embuh! Ruwet pemirsa! Apa iya, saya harus jual diri? Ya kalo saya berwujud indah dan sampe hati melakukan itu? Nah lho… Wah, ndak solutip! Eh, tunggu dulu! Ada solusi! Tapi ndak bisa diaplikasikan pada setiap keadaan. Jadi mbegini.
Bung Hatta, founding father kita, dengan sangat bijak memperkenalkan koperasi, yang saya yakin, bisa mengatasi masalah dalam ilustrasi ngawur saya tadi. Jadi, ada sukarelawan yang mau mencurahkan waktu, hati, tenaga dan pikiran nya untuk membantu sesama dengan koperasi? Mendirikannya bila belum ada, mengembangkan, dan mungkin sedikit waktu dan tenaga ekstra untuk mengurusinya?
— bukan sinetron, tapi… bersambung —
🙂 wah.. mengatasi masalah itu nyatanya memang harus dengan sedikit masalah 🙂
btw, saya juga ada bbrp kali ke pegadaian lho 😀
masalah bener Kang, cari modal jaman sekarang…