Saya adalah pendukung ide freedom of speech alias kebebasan berbicara atawa berpendapat. Seperti pada kasus pemoderasian komentar di blog mantan sekolah saya, saya jadi orang yang paling sewot menentang ide itu.
Tapi ya, saya bukan penganut faham sak wudele dhewe, semau gue. Dalam perspektif saya, hak memperoleh kebebasan itu, dibatasi pula oleh hak orang lain untuk mendapat dan mempertahankan hak nya. Nha, kalo tidak, maka akan terjadi chaos, dan apa yang disebut homo homini lupus kemungkinan besar bakal kesampaian.
Dalam konteks freedom of speech, kebebasan itu mesti dibarengi pula dengan tanggung jawab, juga wisdom. Tidak asbun, apalagi sampe mengedarkan hoax, ataupun malah mengemukakan hate speech dengan dalih kebebasan berbicara.
Fokus pada hate speech, yang kebanyakan dilakukan oleh para ekstrimis-ekstrimis yang super fanatik itu, baik secara sadar, atau tidak sadar (bukan berarti mereka mabuk, tapi karena terbutakan oleh fanatisme mereka). Saya rasa sampean-sampean banyak yang sepaham sama saya, kalau “kebebasan” itu membuat rasa tidak nyaman.
Contoh paling konkret, akhir-akhir ini banyak kita temukan blog atau komentar blog yang saling menyerang perkara agama. Mencari-cari kelemahan agama lain, saling menjelekkan, menebar kebencian terhadap agama yang diserang. Hadoh hadoh hadoh! Sangat nggriseni, membuat tidak nyaman!
Hate speech everybody? I don’t think so… Hate not included 
tenang aja, homo homini lupus dah gag ada secara fisik, paling2 cuma lewat sentimen individu aja :p
gantian no komen 😛