Pernahkah sampeyan-sampeyan melihat diskriminasi? Saya kira pasti pernah.
Mulai dari tempat parkir, pasti beda kalo sampeyan naik mercy dengan naik mobil jepangan atau koreanan biasa. Padahal, mungkin orangnya sama
. Ada lagi di kantor operator seluler, bagi sampeyan yang punya kartu paska bayar dan bayarnya di kisaran sejutaan atawa lebih per bulannya, pasti ndak pernah merasakan yang namanya antri. Masih buanyak lagi contoh yang lain. Mulai dari ndak perlu ngantri di klab malam karena sering consume banyak disitu, bank karena nabung lebih dari sak milyat, dan berbagai hajat hidup lainnya.
Sebagai yang teristimewakan, pasti hampir bisa dibilang bakalan bangga, ya toh? Wong yang namanya jadi sepesial itu hampir selalu membanggakan. Sarujuk ndak? Tapi, bagi yang terpinggirkan oleh orang-orang istimewa itu –seperti saya misalnya– paling paling cuma bisa cengar-cengir sambil bilang dalam hati. Dam*ut!
Mungkin, perlukah beberapa diskriminasi itu? Atau cuma… Yah…
beberapa hal yang perlu diskriminasi apa ya mas?
Ya misale, diskriminasi waktu di bank. Para pengusaha sukses pasti waktunya dikit. Jadi diduluin ya wajar. Bank diskriminatip sama saya, selain nabungnya dikit, buktinya saya masih punya waktu buat ngrasani orang di blog saya…
wahhhhh! kemaren waktu saya pulang ke tanah jowo saya naek lion air! ternyata waktu sesampainya di jakarta saya harus jalan kaki dari pesawat ke bandara ! padahal waktu naek garuda saya tidak pernah jalan kaki!
benar benar perlakuan yang diskriminatip~!!!!
itu ndak diskriminatip. tapi bedo rego 😈
221362 555397Its amazing as your other weblog posts : D, thanks for posting . 559854