Sepertinya, saya memang butuh piknik. Berhenti sebentar mikir yaini yaitu, butuhini butuhitu, ataupun harusini harusitu.

Ah, kuharap aku bisa.

Jogja, Kaefsi, Dan Inflasi

Saya tinggal di Jogja buat waktu yang lumayan lama, mulai dari Kotamadya nya yang sekarang berubah jadi Kota yang sudah kehilangan embel-embel madyanya. Mulai dari nyaman bersepeda atau bermotoran di jalan, sampe sekarang, yah begitulah.

Sepertinya belum lama saya melihat rombongan pesepeda dari Bantul menuju Kota Jogja di pagi hari, dan sebaliknya di sore hari. Belum lama juga, saya diajak ibuk buat nyoba bis kota jalur 11 yang lewat depan rumah lama kami dulu, hanya untuk jalan-jalan dan kembali ke tempat yang sama. Sepertinya, belum lama juga saya nggumun –heran– dengan moda transportasi bernama taksi. Yang menggunakan mobil Ford Laser, mobil yang sungguh wow kala itu. Ademp! Ada AC nya! Ndak kayak Fiat 1100D punya bapak saya itu. Yang meskipun ada AC nya, tapi kependekan dari Angin Cendela.

Sepertinya belum lama juga, saya berada di kota yang adem. Tidak sepanas ini. Jalan-jalan masih terasa lebar. Dan kota ini sungguh mahsyur dengan biaya hidup rendah. Kebanyakan orang tidak bisa menjadi kaya di kota ini. Meskipun tidak perlu keluar uang banyak untuk sebuah apa yang disebut hidup layak.

KFC, adalah restoran ayam goreng yang sungguh mewah. Prestis. Makhal. Setidaknya bagi ukuran saya dan keluarga saya. Makan di tempat ini bisa jadi tiga atau empat kali lebih makhal dari makan di tempat biasa. Lanjutkan membaca Jogja, Kaefsi, Dan Inflasi

Selamat Ulang Tahun!

Tiup lilinnya. Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga… Sekarang juga…

Bukan, bukan saya yang berulang tahun. Bukan juga seseorang yang dekat atau spesial buat saya. Yang berulang tahun adalah status pengangguran saya :mrgreen:

Juni tahun lalu, saya memulai profesi saya sebagai pengangguran paruh waktu. Ketika ada satu dua hal yang terlalu rumit untuk saya ceritakan disini, saya memutuskan untuk berhenti bekerja.

Sejak itu, saya mengalami semacam petualangan hidup. Hidup jadi lebih menarik. Banyak kejadian nyenengin, meskipun tak kalah banyak juga yang pahit. Puol pahitnya! Ya ini, ya itu. Macem-macem lah. Warna-warni kek sampel warna toko cat. Tak terhitung berapa php –pemberi harapan proyek– sudah saya alami. Beberapa tawaran pekerjaan yang karena kekeras kepalaan saya, dengan terpaksa saya tolak. Ada juga beberapa hal yang membuat saya sedikit bisa tersenyum. Gak melulu getir memang. Meskipun sebagian besar 😆

Dan, disinilah saya sekarang, masih hidup. Didekat beberapa teman yang sungguh istimewa luar biasa sabar menghadapi saya.

Hamid, yang mengacungkan jari tengah pada apa yang mereka sebut keadaan. Pak yuh!

LANtip Mengungkapkannya Dengan Istimewa

Bukan, bukan. Ini bukan soal LAN ataupun networking. Tapi ini soal teman saya, Mas Rony Lantip.

Beliau mengungkapkannya dengan bagus sekali apa yang menjadi ketidaksregan saya. Dengan pembukaan yang bagus sekali, juga dengan cara yang sungguh tidak keras dan menyebalkan seperti saya maupun DiVi.

Sering saya menganalogikan hal ini dengan media sosial sebagai ekosistem hutan, dan para penghuninya sebagai pemegang hak atas hutan itu. Pemegang hak bisa saja tetap puritan dan memelihara hutan mereka agar tetap hijau, nyaman ditinggali dan memberikan manfaat bagi orang lain meski itu tidak secara langsung. Atau, mereka bisa mengubahnya menjadi perkebunan sawit, atau tambang emas sekalipun bila ada dengan pledoi soal periuk nasi.

Hamid, yang kembali membaca Tulisan Mas Lantip sambil mengumpat pada Ismet dan Seseq.

Soal Seteru Itu

Disclaimer dulu ah. Saya mungkin belum bisa disebut blogger, saya tidak masuk dan mungkin tidak pernah bisa masuk ke dalam lingkaran apa yang mereka sebut blogger itu. Tapi toh itu tidak lantas menggugurkan hak saya buat waton nyangkem soal dunia blog-blogan itu. Soal nanti pada caci maki, ya resiko 😆

Belum lama ini saya dengar, para sesepuh dunia blog ada sedikit perbedaan tentang satu dan lain hal. Tak jarang, berujung dengan semacam perseteruan dan pembenaran atas jalan yang mereka pilih masing-masing. Sekali dua kali saling sindir dan senggol satu sama lain, tak bisa dihindarkan. Meskipun dengan segala alasan, mereka selalu bilang baik-baik saja dan tidak ada apa-apa diantara mereka. Tapi, suka atau tidak saya merasa tidak seperti itu adanya. Lanjutkan membaca Soal Seteru Itu

Berita Buruk Untuk Penyampai Berita Buruk

Sebenere ndak tahu judul itu pas atau ndak. Tapi daripada ndak nulis nulis, jadilah saya memilih judul itu. Soal tepatnya? Ya entah.

Saya sebenere cuma mau curhat dan ngomongin soal, kenapa sih budaya asal sampeyan seneng –beberapa orang, terutama yang tua tua juga menyebutnya dengan asal bapak senang– ini menjamur kronis? Padahal ini sebenarnya tidak bagus buat si bapak –bisa juga ibu, tante, om, mas mbak atau apapun, simplifikasi saja– itu sendiri? Dan cilakanya, kalau si bapak itu pengambil keputusan, akan berimbas ke tempat dimana beliau diharapkan mengambil keputusan.

Lha mau bagaimana lagi? Bukannya kebanyakan kita lebih senang yang bagus-bagus? Berita bagus apalagi afirmatif selalu lebih menyenangkan untuk didengar. Sedang kepada berita buruk, seringkali arogansi dan ego kita mengambil alih. Dengan sekuat tenaga akan menyangkalnya.

Sering terjadi pada saya juga
Hal begini, sering terjadi pada saya juga. Ketika saya dipercayai pekerjaan, yang dengan segala keterbatasan analisa dan pemrosesan otak saya, mengatakan itu tidak atau belum mungkin.

Mas, tolong dibikinkan begini begini begini, supaya nanti bisa begini begini, anggarannya sepuluh ribu termasuk fee sampeyan

Beberapa hari kemudian, saya datang dengan jawaban…

Ini tidak mungkin dijalankan dengan hasil seperti yang dikehendaki karena begini begini pak. Daripada rugi sepuluh ribu, mending kita pakai cara lain, atau kita tunda. Soal fee saya, saya manut saja

Alih-alih dapat bayaran buat sekedar ganti bensin sama jam-jam saya kurang tidur, seringkali saya malah mendapat jawaban

Bilang saja kalau tidak mampu, saya akan cari orang lain yang lebih bisa diandalkan dari sampeyan

Meskipun akhirnya pekerjaan itu dijalankan orang lain yang bilang bisa dan bisa, dan seringkali saya benar, kalau ujung-ujungnya akan gagal, sekali lagi ego membuat mereka tidak datang lagi pada saya. Mungkin, tidak pernah datang lagi malah.

Dan sayapun masih laper, dan mereka rugi. Lebih banyak dibanding ngasih duit pada sontoloyo pembawa berita buruk ini.

Hamid, yang baru sadar kalau berita buruk adalah berita bagus, hanya berlaku di tukang berita.

Dua puluh Mei dua ribu tiga belas.

Orang bilang hari ini hari kebangkitan nasional. Saya bilang hari ini adalah deadline bayar utility bills dan duidnya sama sekali belum kepegang.

Sementara itu, jalan masih panjang. Masih butuh ya ini. Ya itu. Buat menjadikan sesuatu.

Bangkit apanya? 😆 😆 😆

Buka Toko

Beberapa kejadian belakangan ini mengingatkan saya pada kata-kata seorang teman. Beberapa tahun yang lalu, seorang teman keturunan Cina pernah bilang kepada saya.

Kata kakek saya, jangan pernah buka toko kalau gak bisa senyum

Saya pikir, itu banyak benarnya juga. Terlepas kata-kata itu diucapkan saat setengah mabuk dan diragukan kebenarannya –kebenaran kalau memang kakek temen saya itu benar-benar bilang begitu. Ketika kita berani membuka toko, mau tidak mau kita mesti banyak senyum biar pembeli ndak pada kabur dan beli di toko sebelah.

Senyum ketika melayani pembeli yang mau mengeluarkan uang buat kita sih wajar. Keterlaluan malah kalau saat saat kita menerima duid kok mukanya bikin empet. Jelas pada kabur lah kalau begitu caranya. Senyum saat tahu akhirnya pembeli itu jadi langganan juga memang sudah seharusnya. Wong dengan begitu cuan masuk pundi-pundi dan menambah kekayaan kita. Tapi, ada beberapa senyum lagi yang sering kita lewatkan. Yang sebenarnya gak kalah pentingnya dari senyum ketika dapat keuntungan.

Jualanmu Jelek!

Saat dibilang begitulah kebisaan senyum kita mendapatkan tantangan yang luar biyasa. Macem-macem reaksi bisa kita pilih. Kita bisa saja dengan entengnya bilang: emang sampeyan bisa bikin? Emang sampeyan pernah jual? Enak aja bilang jualan saya jelek! Bisanya kok cuma njelek-njelekin. Situ ndasuka sama toko saya ya? Atau…

Emang jeleknya dimana? Bisa kasih tahu gimana bagusnya? Kalau nanti jadi lebih mahal atau datengnya lebih lama, kira- kira pada masih mau beli ndak ya?

Dua duanya gak salah. Kita sendiri yang nentukan. Tapi kira-kira, lebih asik direspon yang mana? Kalau saya sih bakal tak ajak berantem yang punya toko kalau ngerespon pake cara pertama.

Hamid, yang sedang mencoba bertahan hidup dengan jualan.

Suatu Saat Kawan, Suatu Saat

image

Seorang kawan lama mengirimi gambar ini ke saya belum lama ini. Tepat disaat keadaan saya amburadul acakadut. Tepat ketika saya berada di salah satu titik terkacau hidup saya. Asu memang. Tapi entah kenapa hal ini bisa membuat saya tersenyum dan bersemangat lagi.

Suatu saat kawan, ketika aku sudah “jadi orang”, akan kutunjukkan pada keluargaku nanti dan bilang. Inilah salah satu hal yang membuat aku masih bisa disini.

Suatu saat kawan, suatu saat…

Diam Sebentar

image

Diantara kechaosan hidup saya akhir-akhir ini. Ada juga satu dua hal yang menenangkan hati. Salah satunya kucing ini.

Ini adalah kucing yang datang entah darimana semingguan lalu. Tiap malam dia pasti naik ke kasur saya dan nyusul tidur.

Hari ini dia nyusul tidur lagi. Dan dengan selonya saya selimuti. Trus tak lihati tidurnya. Well, gak semenyenangkan nyelimuti dan lihat anak orang tidur sih, tapi tetap saja menyenangkan dan menentramkan hati 🙂