Dua Hal Yang Tak Pernah Berubah

Kemarin aku cerita apa ya? Oh ya soal dejavu dan tubi kontinyu nya soal no reply. Sakiit banget memang, sampai sekarang saya masih dapat no reply. Fiuuuh.

Trus bagaimana ya? Other side of me tanya, apa ndak capek tuh? Tiap hari kamu masih tetep dapat no reply? Whaaaa! Capek juga sih kalo dipikir pikir n dirasa-rasa… Tapi bukankah saya harus menyelesaikan apa yang belum terselesaikan. Soal sakit hati dan capek urusan belakangan… Dibikin numb saja lah!

Tapi, yang jelas, paling nggak ada dua hal yang enggak berubah. Saya nggak akan menyerah soal ini, dan saya akan selalu seganteng ini (sejelek ini tepatnya) wekekekekeek…

Sorry, But You Got No Reply

Beberapa hari ini saya ujug-ujug mak bedunduk dimarah-marahin oleh salah seorang teman saya. Marahnya sudah sampai pada level furious menurut saya. Dan sayangnya, dia ndak mau kasih tahu saya, apa salah saya sama dia. Meskipun saya tahu apa dan siapa triggernya, tapi kok tak dedes ndak mau ngaku, apa yang kurang berkenan bagi dia. Hiks hiks…

Berkali kali saya kirim sms coba minta maap sama dia. Telpon lom brani seh,
lagian paling paling skenarionya kalo gak diangkat ya dikasihkan temennya. Dasar Naseeeb!

Sampe sampe, kalo hape saya bisa ngomong ke saya, dan sang hape itu punya
akal, dia pasti bilang,  sorry my friend, but you got no reply

Deja Vu Kah?

Deja Vu kah diriku?

Akhir-akhir ini aku mengalami sesuatu yang saya kira pernah saya alami kurang lebih enam tahun yang lalu…

Banyak banget kesamaan nya, se enggaknya ada tiga kesamaaan. Saya, dia, dan seorang teman saya. Topiknya juga sama, soal hubungan baik dengan seseorang yang terganggu karena seorang teman…

Fiuh… To hard to tell the stories now… Besok aja lah.

Saatnya Kontemplasi

Kontemplasi? Apa itu? Menurut temen saya yang ahli bahasa (se enggaknya lebih tahu dari saya) kontemplasi berarti merenung, biasanya dalam kesendirian. Kalo memang itu artinya, ya cocok…

Jadi begini, bertahun tahun saya berteman dengan banyak orang, saya berusaha menghilangkan ego ketika saya berteman. Dan rata-rata usia pertemanan saya berjalan lama, sekian tahun, sekian tahun…

Sampai suatu ketika, saya ingin mempunyai ego sedikit dalam berteman, saya pengen sekali kali merasakan jadi teman saya yang selalu saya maklumi, dan pengen sekali kali saya yang dimaklumi…

Apa yang terjadi? DISASTER, bahkan mungkin CATASTROPHE! Hidup dan pertemanan saya berantakan. Jah!

Saya baru sadar, pertemanan saya ndak sehat, dengan menghilangkan ego saya, teman teman dekat saya jadi manja… Terbiasa dengan dimaklumi dan ndak mau maklumi saya…

Sekarang, saatnya kontemplasi, maukah saya menukar teman saya dengan ego saya…

Yang Tidak Didapat dari Blog Engine

Temen saya, Afit pernah menulis, mengapa dia ndak jadi beli hosting untuk ngeblog. Dengan berbagai alasan yang te-path dan maknyuss dia kemukakan. Tapi ini, menurut saya lho ya, mbok menawa ada yang beda dari dia, tapi intinya sama:

Blog engine memang menawarkan fleksibilitas tinggi mengenai themes dan plugins yang dipasang, termasuk kemungkinan mwenambah duit dengan memasang iklan (adsense, chika e minimal atau amazon link misalnya). Pokoke customized sak poll nya! tapi ini kelemahannya:

  • ruwet
  • perlu pemahaman tentang database (mysql)
  • rentan kacau balau, terutama bila pilihan hostingnya njelek…
  • ndak dapat komunitas

Nhaa yang terakhir inilah yang kita harus bekerja keras untuk mendapatkannya, membangun network sendiri, dan iklan sana sini kepada temen temen baik itu dunia beneran ato temen cyber (wakakakaka).

Ibaratnya, ikut blogging gratis macam wordpress.com atau blogspot.com itu seperti tinggal di perumahan. Secara otomatis, kita mempunyai tetangga, tapi ya itu, kalau mau feature yang komplit, dikit dikit bayar… Dan juga, "rumah" kita sudah tersedia apa adanya. Beda dengan kalo kita beli tanah dan bangun rumah sendiri.

Pilihannya? Suka suka kita, tergantung budget, kemauan dan kemampuan kita…

Damn Free Host!

Dasarnya gratis, mau dibagaimanakan toh? :p dengan crashnya database di hostingan gratis saya, beberapa tulisan saya hilang. hiks hiks. padahal lom sempat bakup :s dan ada satu bakupan yang saya tempatkan di hosting gratis lain (meskipun bakupannya obsolete) malah down hostingannya. Beu….

Dasar naseeb naseeb. Tampaknya saya harus nrimo dengan hosting di wordpress.com sementara saya nabung buat beli domain dan hosting sendiri.

Kambeng Tetap Kambeng

Hari ini kok mak bedunduk, saya ketemusama Temen lama saya, waktu saya ngenet di beton, warnet deket rumahsaya.
Lha, sudah berapa lama ya saya ndakketemu dengan teman saya ini. Sejak di gubuk derita mungkin :DHeheheheh…. Temen saya ini tidak banyak berubah. Tetep saja rambut model chrisye (kriting semrawut). Pringas-pringis dan ndak pernah serius!

Wes ah, ndak ketularan edan seperti si oknum temen saya itu

Cintamu Sepahit Topi Miring

Rasa-rasa kok judul puisinya Romo Sindhu ini cocok buat tak ungkapin ke seseorang. Ya, Cintamu Sepahit Topi Miring

Buat yang gak tau apa itu topi miring, ya sudahlah, jangan sampai tahu. Ndak baik… Ehehehehe. Ndak dhing, tak jelaskan dikit saja:

Tanyalah peminum kelas gardu ronda. Pasti mereka lebih mengenal Tomi ketimbang Kahlua, Absolut Vodka, Johnie Walker, atau Chivas Regal.

Tomi kemasan seperempat liter, dalam botol wiski ukuran kantong ala Kapten Haddock, harganya lebih murah daripada sebungkus Djie Sam Soe. Cuma seperdua puluh harga anggur termurah impor di pasar swalayan.

Di tangan konsumen setianya, Tomi ini memacu mixology atau seni bartending yang ajaib. Tomi dicampur minuman energi macam Kratingdaeng atau Extra Joss, ataupun disatukan dengan minuman bersoda, disajikan dengan gelas seadanya, tanpa garnish, tanpa ada slice jeruk lemon atau olesan bubuk garam di bibir gelas… Hasilnya? Sama dengan minuman ber merek yang minimal menghabiskan ongkos senilai gaji sebulan peminum setia Topi Miring: riang, kadang lupa diri, sesekali terjerembab ke got atau sawah.

Yang jelas, rasa murni dari sang Topi Miring itu sangat pahit. Jangan bayangkan pahitnya seperti minuman aseli dari luar sana. Tapi yah… Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya pahit!

Buat kamu, ya, kamu… Kamu yang udah memutar balikkan hati dan otakku… Cintamu Sepahit Topi Miring

Cintaku Mak Nyess

Hari ini jatah pembagian kompor gas di kampung saya. Banyak yang pesimis, bahkan takut dengan program pemerintah yang sebenernya sangat bagus ini.

Rata-rata, mereka pada takut kalo kompor gas itu meledak. Meskipun banyak kejadian juga kompor minah -minyak tanah- meledak dan mengakibatkan kebakaran hampir satu eR We.

Saya ndak bisa menyalahkan mereka atas ketakutan itu. Secara, gas itu ndak kelihatan, beda dengan minah yang wujud, dalam hal ini berbentuk cairan, kasat mata. Nhaaa ini dia yang bikin orang orang was was.

Tapi saya juga ndak bisa menyalahkan mereka. Lha wong manufaktur si kompor gas itu sendiri juga ndak banyak yang ndak bagus, kadang bocor etc etc, memang, si tabung itu sendiri saya yakin sudah di manufaktur dengan sangat baik. Tapi begini lho, apakah si kompor, si selang dan pengait-pengaitnya itu sudah melewati proses manufaktur dan quality control yang baik pula?

Tapi dengan ketakutan warga itu, banyak opini-opini lucu soal gas itu, antara lain:

  • Pemerintah bagi bagi kompor gas biar rakyatnya pada kena ledakan
  • Wah, minyak endonesa (begitulah kalo pada ngomong Indonesia) dijual terus sama negara, rakyatnya suruh pakai gas
  • Mbok gas alam yang ada di endonesa ini di barter saja dengan minyak
  • de el el, de el el. Pokoke lucu punya

Sementara itu, mari doa sama-sama, supaya program konversi minah ini berjalan baik, tanpa halangan, karena memang konversi ini merupakan niat yang -semoga saja- baik dari pemerintah.

Whaa Salah Semua Sih!

Hm… Bingung saya memulainya. Tapi um… Begini saja deh. Jadi ceritanya ginih:

Saya mempunyai dua orang teman. Yang kok kebetulan menyayangi orang yang sama. Katakanlah teman saya ini oknum A dan oknum B…

Lhaa Si Oknum A ini naksir sama sebut saja bunga. Tapi, njeleknya, dalam mendekati bunga ini si Oknum A imbas imbis ra nggenah! Lha jadi ya bisa diketahui toh. Si Oknum A ndak bakal berhasil.

Jreng jreng jreeeng…. Datanglah si Oknum B, yang jatoh cinta kepada bunga karena bertemu di (tentunya) suatu pertemuan mak bedunduk si Oknum B ini kok siiiiiiing…. Jatoh cinta pada bunga.

Nhaaa, maka mulailah pendekatan si Oknum B ini pada bunga… Dan kebetulan, bunga kok mau…. Dan mulailah kebingungan saya dalam “permusuhan” dua teman saya…

Oh, God! Please Help Me!