Sampeyan pernah tahu pe cun, pelacur, lonthe, ca bo, ato apa sajalah namanya… Pokoknya dagangan pasar daging. Kalo belum tahu, tanyalah sekitar-sekitar sampeyan. Saya ndak akan menjelaskan, nanti kena pasal UU Pornografi malah repot! Meskipun mungkin cuma porno bagi beberapa orang –tanpa grafi bagaimanapun juga menurut saya.
Adakah orang yang lebih tragis dari yang namanya pelacur itu? Coba bayangkan, mereka harus selalu mengumbar senyum, melayani setiap lelaki yang datang –saya ngomongkan yang wanita, meskipun jaman sekarang ada juga yang lelaki :mrgreen — seperti seorang permaisuri, atau minimal seperti isteri atau pacar teladan. Ndak peduli orang yang datang itu hwarakadah bentuknya seperti apa. Ya kalo ganteng? Kalo ancurr seperti saya, atau bahkan malah lebih ancur dari saya???
Bagaimanapun, mereka selalu membikin para pelanggannya –yang datang tanpa paksaan– hepi hepi dan hepi. Tanpa pernah berusaha untuk mengecewakan, apalagi merugikan orang lain. Bahkan cenderung menyenangkan banyak pihak.
Sekarang cobak. Pelacur itu sudah nyenengin berapa orang-orang disekitarnya? Mulai dari pelangganya –jelaas, mamihnya, yang selalu dapat bagian persenan, supir taksi, dan bersupir-supir lainnya yang juga mendapat persenan, tukang cuci lendir –you know what i mean
, tukang nasi, warung makan, tukang parkir dan lain laine…
Tapi tapi tapi, mereka selalu saja dikejar-kejar, dijadikan kambing hitam, pokoke yang bersalah merusak moral. Tak kurang dari Polisi beneran, Pol PP, Ormas Ekstrimis, sampai preman berkudung yang mangkel karena ndak mendapat bagian persenan dari si pe cun itu.
Kenapa sih, kita selalu ngusik perkara dagangan pasar daging itu, dengan mengatasnamakan moral? Moral yang mana pren? Kenapa justeru yang menyenangkan banyak orang itu dikejer-kejer sampek mampus! Karena mereka salah? Memang mereka salah tapi ndak merugikan, se enggaknya secara materiil. Bukan secara moril, yang saya sendiri masih ndak jedag apa itu moral, apa itu moralitas? Bah!
Kejer saja itu koruptor, pengemplang BLBI, penggusur tanah, dan pemegang kekuasaan semena-mena itu! Mereka selalu merugikan kita, tapi kok kadang malah dipuja-puja, datang digelaran karpet merah, tak jarang kedatangan mereka disambut seremonial yang alamak jaaaang!
Yang pasti, malah tak jarang mereka pake pe cun di satu waktu, dan menyuruh bawahannya menggulung pe cun itu di lain hari. MUNAFIK!
Hormatilah pelacur sodara-sodara! Jangan hormati pejabat korup, orang-orang munafik, pemegang kekuasaan semena-mena, para perampas hak, dan orang-orang munafik itu! Pelacur jauh lebih terhormat…