Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa

Hormatilah orang yang berpuasa.

Hormatilah bulan puasa.

Dua kata-kata itu mungkin sudah sering sampeyan lihat. Atau sampeyan temui di jalan jalan. Dan saya ndak akan mengulangi himbauan itu di blog saya ini.

Saya pengen menghimbau sampeyan hal yang agak sedikit berbeda. Hormatilah orang yang tidak berpuasa

Terutama bagi sampeyan-sampeyan yang berpendapat agak keras, mari kita kaji sama-sama; Salah satu esensi puasa adalah menahan hawa nafsu, menahan amarah yang timbul dalam diri. Kurang lebih begitu ya? Oleh sebab itu, jangan kotori puasa sampeyan dengan memandang sinis, apalagi nempelengi orang-orang yang tidak berpuasa, merusak warung-warung, atau tempat hiburan yang buka pada saat puasa, dan berpatroli ke tempat-tempat tongkrongan anak muda, dan membentak mereka untuk bertarawih.

Tidak, tidak, saya tidak melarang sampeyan buat berdakwah di bulan puasa, saya juga bukan setan yang memlintir hal-hal yang tidak benar menjadi benar dan sebaliknya. Saya juga Insya Allah berpuasa.

Saya hanya mengingatkan bahwa hal-hal yang demikian disamping mengotori puasa kita, juga malah menjadikan blunder, membuat sesuatu yang kita maksudkan sebagai dakwah malah berdampak negatif, membuat umat beragama lain tidak simpatik, dan kemungkinan membuat saudara-saudara seiman menjadi murtad. Kalau orang itu jadi murtad, sampeyan mau tanggung jawab? :mrgreen:

Jadi buat saudara-saudara saya yang berpuasa, hormatilah saudara kita yang tidak berpuasa, seperti kita menuntut saudara-saudara kita yang tidak berpuasa untuk menghormati kita. 🙂

Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya…

To Err Is Human, To Forgive Divine

To err is human, to forgive divine.

Yang terjemahan ngawurnya kurang lebih begini: adalah manusiawi berbuat kesalahan, tapi diperlukan hal yang luar biasa untuk bisa memaafkan.

Terjemahan ngawur saya tadi munkin kurang tepat dalam mengartikan divine. Divine itu sendiri bisa diartikan sebagai sifat Tuhan yang Maha Memaafkan.

Lho, kok jadi main idiom Inggris begini? Mungkin karena saya ndak bisa memikirkan pembukaan tulisan yang ciamik :mrgreen:

Baiklah, bertahun-tahun saya pakek pegangan itu, memaklumi dan memaafkan “err” teman-teman saya, orang-orang di sekitar saya. Perasaan saya? Lega banget, I’ve divine! 😆 . Tapi ternyata, pegangan saya itu membuat teman-teman saya, orang-orang sekitar saya, egois sama saya. Selalu menuntut, meminta, dan gak pernah berkaca.

Ambil contoh begini. Seorang teman datang pada saya, mengeluh kalau dia berbuat kesalahan, dan meminta bantuan saya buat sama-sama memperbaiki keadaan. Well, to err is human, and since he/she is my friend, I just can say, ok, lets fix it. Dan setelah beberapa lama gantian saya yang berbuat kesalahan, giliran saya meminta bantuan pada teman, dan jawabannya? That’s your probs dude, you’re the one who made mistake, that’s not my problem. Who the hell are you? — well, forgive = divine 🙂

Skema tadi kadang berjalan berulang-ulang, dan sadly, kadang dilakukan oleh oknnum yang sama. WTF! Tidak kah mereka mau berkaca sebentar? Atau justeru memanfaatkan prinsip yang saya percayai? Entahlah, hanya mereka yang tahu.

Saya gak ikhlas dong nolong teman? Memang,saya tidak ikhlas. Saya menolong teman dengan harapan bakal mendapat sedikit bantuan saat saya kesulitan. Ikhlas itu berat kawan!

Begitu Banyak Cerita, Sedikit Yang Bisa Diceritakan

Wah, lama juga ya gak melakukan vandalisme di blog ini. Mungkin sudah hampir sebulan-an. Trus, ngapain wae?

Saya juga bingung ngapain wae selama ini. Yang jelas, kayak judul blog ini. Banyak cerita, tapi sedikit yang bisa diceritakan.

Kenapa cuma dikit yang bisa diceritakan? Well, saya kurang sreg saja menceritakan hal yang bikin gak enak ati, atau over hepi hingga bikin ngiri yang baca. :mrgreen:

Jangan salah sangka dulu, yang saya alami akhir-akhir ini, gak ada yang bikin ngiri kok. Mbikin susah semua malah. Makanya, gak saya ceritakan 🙂

Yang Penting Merknya Bung!

Iseng-iseng saya tanya sama temen saya. “Mas, PDA-Phone Samsung kayak gini kalau dijual berapa ya? Ada kamera 2MP, bisa wifi juga” Dan temen saya bakul hape itu bilang. “Wah yang tipe ini, paling kalau full ya paling tinggi dua belas, kalau batang ya 600 lebih, dibawah satu” Trus saya lanjut tanya. “Lha kalo Nokia 6600 batangan ponakan saya ini berapa? Lebih murah ya pastinya? Wong sudah udzur banget gini”. Dan temen saya sang tukang hape pun bilang “Casingnya masih ORI ni, 600 saya mau” Saya: “!@#$%^&*”

Lanjutkan membaca Yang Penting Merknya Bung!

Sudahlah, Saya Ndak Akan Meminta Lagi

Beberapa hari ini, saya sedang berada di puncak kesulitan. Kesulitan saya sebenerya sudah dimulai beberapa bulan yang lalu. Berawal dari deal bisnis yang buruk, dan berujung pada wanprestasi. Sehingga saya dituntut (meskipun cuma secara moril) untuk membayar ganti rugi kepada pihak-pihak tertentu.

Dengan berbagai cara dan jurus, saya kurangi sedikit-sedikit kesulitan saya. Kalaupun tidak bisa, setidaknya bisa saya undurkan temponya. Sampai akhirnya saya berada pada titik benar-benar kesulitan untuk menyelesaikannya.

Dan sinyal SOS pun saya kirimkan pada beberapa teman yang saya anggap karib. Ada yang membantu, meskipun saya tahu teman itu juga sedang mepet, ada yang berbela sungkawa dan ada juga yang kadang membuat joke, yang membuat saya sejenak melupakan beban yang alamak jang beratnya… Dan ada juga yang mengacuhkan saya.

Saya, mungkin terlalu rendah untuk mendapatkan penolakan. Sekedar untuk mendapatkan jawaban tidak, atau penghardikan. Urus sendiri masalahmu! Jangan libatkan saya! Bahkan ketika sudah tiga kali saya meminta bantuan, dan tidak saya hargai cuma-cuma bantuan itu.

Ah, sudahlah… Saya ndak akan meminta lagi. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Cuma, diposisi ini, saya anjingnya. Kalaupun toh saya sudah menggonggong sekuat tenaga, dan sang kafilah tetap berlalu, buat apa saya tetap menggonggong? Buang-buang energi!

MLM: Gampangnya, Bukan Untuk Saya

Sudah sering, saya ditawari MLM, Network Marketing, Money Game ataupun sejenisnya, dan saya selalu menolak. Walaupun keuntungan yang ditawarkan memang membikin hati berdebar-debar. Bahkan ada yang menjanjikan keuntungan sampai lima milyat. Wuih! Lima milyat berarti lima ribu juta sodara sodara. Bayangpun, uang gepokan sejuta an, ada lima ribu biji. Lherr!

Alasan saya menolak yang paling mendasar sebenere cuma satu. Saya bukan marketing geek, yang bisa memasarkan dengan baek. Saya ndak bisa meyakinkan orang. Selama ini saya dipercaya karena hasil pekerjaan saya, portofolio, ataupun hasil katebelece :mrgreen: . Jadi jelas, MLM sangat tidak cocok untuk saya, dimana saya dituntut untuk membuat orang percaya sama saya, sedang saya tidak bisa membuktikan omongan saya.

Tapi, selama perjalanan saya menolak MLM itu, bertambah lagi kemalasan saya untuk ikut-ikutan MLM dan konco-konconya itu. Kemilitansian frontliner-frontliner nya lah yang bikin saya  ill feel untuk ikut MLM. Mulai dari penawaran yang over gigih, pendewaan sistem mereka, sampai yang paling menyebalkan, penjelek-jelekan orang yang gak sepaham. Kata-kata miskin, gak mau maju, malas dan kata-kata ancur lainnya gak jarang saya dengar, juga banyak saya baca di blog yang penulisnya anti MLM. Komentar-komentar dari pihak Front Pembela MLM sungguh terlalu, sangat menyakitkan hati. Dengan mudahnya mereka menghujat orang lain yang gak sepikiran.

Saya gak sampai hati untuk melakukan hal-hal yang semilitan itu. Jadi? Gampangnya, MLM bukan untuk saya.

O iya lupa, penyamaan MLM dengan sistem yang mirip-mirip disini hanyalah penggampangan saja. Saya tahu beda, tapi beda entah dimana. Jadi sebelum dihujat kebodohan saya yang menyamaratakan MLM dengan skema yang mirip-mirip, saya mohon maap dulu yak?

Tanyalah Dengan Baek Dan Bener!

Pernah ndak sampeyan bertanya di mailing list, forum, atau messenger pada orang yang sampeyan anggap lebih ngerti? Dan akhirnya gak dijawab, atau mungkin dijawab dengan singkat tepat jelas dan padat. Cuma 4 hurup: STFW atau RTFM?

Sombong ya? Gak selalu. Mungkin juga kitanya yang bertanya dengan kurang baek dan bener. Jadi dianggap kurang beretika. Dan akhirnya malah membuat yang ditanya ngamuk :mrgreen:

Perlu diketahui, orang-orang yang sampeyan tanya itu kemungkinan sudah bosan menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang. Siapa yang ndak bosen coba? Apalagi, rata-rata mereka bukan orang yang dibayar untuk itu. Seperti customer support, technical support atawa bersupport-support lainnya yang memang bukan dibayar untuk itu. Hampir bisa dibilang, mereka menjawab dengan sukarela, bahkan mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan mungkin juga uang. Nha kalo kita bertanya dengan etika yang kurang, wajarlah kalau RTFM atau STFW lah jawaban nya. Sekedar informasi, RTFM: Read The F*ckin Manual, dan STFW: Search The F*ckin Web.

Jadi, bagaimana bertanya dengan baik dan benar?

Lanjutkan membaca Tanyalah Dengan Baek Dan Bener!