Samting, Semoga Menjadi Something

samtingBermula dari ngobrol-ngobrol saya dengan Kangmas Lantip soal kampanye dan konten kontenan, kami pun mulai menghayal soal Indonesia dan konten di internet. Kejauhan? Ketinggian, mungkin saja. Tapi kita tidak pernah tahu kan kalau belum mencobanya?

Oke, jadi begini. Dari obrolan kami, kami mulai punya khayalan, impian atau cita-cita dengan mengajak teman-teman yang lain untuk menambah konten yang ngIndonesia di Internet. Beberapa kenalan kami memang pengguna internet yang kebetulan jadi penulis, blogger, dan (mungkin) buzzer. Dengan modal sok kenal inipun kami mulai mengidekan sesuatu bernama samting. Satu minggu satu posting.

Posting tentang apa dong? Dalam khayalan babu kami sih, dari yang berhasil kami ajak, nantinya akan banyak menulis tentang Indonesia. Apa saja, mulai dari sosial, pariwisata, teknologi, dan lain sebangsanya. Impian kami, kalau seandainya 30 juta pengguna internet itu satu permil saja, melakukan posting blog atau konten tiap minggunya, berarti kurang lebih ada 30 ribu konten baru tentang Indonesia di internet. Bayangpun! Dengan jumlah konten sebanyak itu, tentunya Indonesia bakal lebih “tampak”. Setidaknya di internet dan di mata search engine semacam google :D. Harapannya lagi sih, dengan bertambahnya penampakan di internet ini, akan banyak membawa manfaat untuk Indonesia.

Jadi. Bersediakah sodara-sodara membantu mewujudkan khayalan babu kami? Karena kami bukanlah orang terkenal, bukanlah orang-orang yang bisa mempengaruhi. Tapi yang jelas, kami punya impian dan harapan soal Indonesia. Dan mungkin baru ini yang bisa kami lakukan…

Note:
Selengkapnya soal samting ini bisa dibaca lebih lanjut di blognya Kangmas Lantip disini. Sepertinya sodara beliau lebih bisa bercerita dan menjelaskan daripada tulisan abal-abal saya ini.

Tentang Social Climber

Menurut wikipedia, social climber itu:

A social climber is someone who seeks social prominence, for example by obsequious behavior. The term is sometimes used as synonymous with parvenu, one who has suddenly risen to a higher economic status but has not gained the social acceptance of others in that class. “Social climber” may be used as an insult, suggesting a poor work ethic or disloyalty to roots.

Mungkin gampangannya semacam wannabes atau apa ya? Kira-kira pengen naek kelas dengan cara apapun. Bahkan, beberapa definisi di urban dictionary jauh lebih “blatant” dalam mendefinisikan. Lihat saja:

(n.) Similar to an “attention whore”, but a social climber is anyone that becomes friends with someone else if they have something that they want, which we all know involves people. They become ‘friends’ with people who “know people”. In turn, they become (or attempt to become) ‘friends’ with that first person’s more “popular” friends, leaving the first person behind.

Wajar gak sih seseorang itu menjadi social climber? Wajar-wajar saja, sah sah saja. Meskipun yang namanya climber pastinya menggapai yang diatasnya, dan – gak jarang juga — nginjek yang dibawah.

Pernah ketemu yang beginian? Saya pernah. Pernah jadi objek penderitanya malah. Marah? Gak lah. Disamping beberapa dari mereka sudah terlanjur jadi teman, kelakuan mereka terlihat lucu 😆

Annoying Bank

– Selamat pagi Pak, saya … dari BCA. Ingin meminta tambahan referensi saudara Bapak di Jakarta yang punya telpon tetap.

+ Wah ndak punya Mas (saya jawab begitu karena ndak mau merepotkan orang)

– Kalau begitu permohonan kartu kredit Bapak tidak bisa kami proses.

+ …

Oke, beberapa hari yang lalu, saya dikejar-kejar sales kartu kredit untuk membuat kartu kredit ditempat dia bekerja. Bank tempat saya menerima so called gaji, dan melakukan lebih dari setengah transaksi keuangan saya –yang meskipun tidak seberapa. Karena saya risih, akhirnya saya iyakan saja tawaran dia, dan mengisi formulir aplikasi.

Dan, horror pun dimulai dari sini. Beberapa hari setelah itu, dengan annoyingnya dia menelepon teman saya yang saya isi jadi referensi di aplikasi kartu tersebut. – saya isi karena sebuah keharusan. Sedikit “terpaksa” dan dalam rangka mengiyakan orang kredit tersebut. Istilahnya biar cepet. Pertanyaan-pertanyaan rese dan kurang tahu adat pun dilontarkan, mulai dari berapa lama kenal sampai gaji dan THP saya. Duh! Meskipun saya sudah ijin sama teman saya tersebut, ya tetep lah saya jadi gak enak ati.

Terror si tukang kartu ini gak berhenti sampai disitu, beberapa hari kemudian, dia pun nelpon bagian HRD tempat saya kerja. Tanya berapa lama saya kerja disitu, dan –sekali lagi— berapa gaji, total THP, dan berbagai macam detil saya. Bener-bener bikin saya emosi, dan gak enak hati sama anak HRD tempat saya kerja. Karena pertanyaannya kurang lebih seribet polisi yang nyari info buronan 😆

Kurang lebih seminggu kemudian, yaitu tadi siang, saya mendapatkan telpon yang cukup “WTF” itu tadi. For God sake, permohonan! Dan diucapkan dengan nada jual mahal. Kek saya ini desperately need that credit card.

Oke BCA, sampeyan bener-bener bikin saya emosi kali ini. Yang maksa maksa bikin kartu siapa, yang gengges bin annoying siapa, dan akhirnya yang jual mahal dan terkesan merendahkan siapa. Kalian jualan produk pinjaman, yang saya sendiri gak tahu bakal berapa limitnya – sepertinya tidak mungkin besar, dan ganggu nya setengah mampus.

Niat nawarin gak sih? Dan kanapa bagian datamining kalian oksimoron sekali? Bukankah gaji saya juga di transfer lewat bank kalian? Banyak transaksi saya mulai dari beli kopi sampai bayar ini itu juga lewat kalian? Dan permohonan?

we te ep lah!

Terlalu Pintar

If it’s too good to be true, it probably is.

Ungkapan itu ada benarnya juga. Meskipun statusnya cuma probably, tapi dalam kebanyakan kasus lebih sering benernya dari enggaknya. Dan saya percaya banget sama hal itu. Enggaknya tawaran bisnis lah, investasi lah, sampai pada orang.

Pada kasus orang ini menarik. Buat saya, kalau ada orang yang terlalu baik buat nyata terutama yang gak saya kenal. Entah berapa persen dari keyakinan saya mengatakan kalau itu ada maunya, paling gak pencitraan lah. Hihihi. Demikian juga buat what they called kepakaran, atau kepintaran.

Saya salah satu orang yang skeptis pada orang yang terlalu pintar. Bisa ini, bisa itu. Tahu ini, tahu itu. Terlalu pintar dan terlalu banyak tahu membuat saya tidak yakin pada kompetensi orang itu. Buat dicontohkan? Banyak lah. Ada ahli media sosial yang kita tahu sangat pakar soal facebook, sekonyong konyong ketika twitter beken, dia juga jadi ahli twitter. Meskipun dia itungannya belum lama maen twitter. Di bidang teknologi juga ada, tahu ini itu, bahasa pemrograman ini itu, sekaligus ngerti soal interface, UX, database dan jaringan. Ah so… Dunno, just yet another pakar-telematika-yang-terkenal-itu.

Seorang Habibie misalnya. Yang kita semua tahu betapa hebatnya beliau dalam engineering dan bikin pesawat, toh pernah mengaku kalau beliau tidak bisa nyetir pesawat. Itu yang membuat saya sangat hormat kepada beliau. Bahwa seseorang gak akan bisa duduk di dua kursi sekaligus dengan baik. “Hukum” itu berlaku di otak saya. Saya tidak akan pernah percaya pada orang yang terlalu pintar, dan saya sangat hormat pada orang yang pintar dalam satu hal, dan tetap mengakui kalau dia tidak/belum tahu soal hal lain.

Ngiri Mid? Bisa jadi… 😆

Kamu Bukan Wanita?

Saya perempuan, bukan wanita.

Pernah terlintas statemen itu di linimasa twitter saya. Dan sayapun jadi penasaran. Kenapa beberapa dari temen saya gak mau disebut wanita, dan hanya mau disebut perempuan. Dan saya pun bertanya pada orang-orang apa itu perempuan dan apa itu wanita. Dan hasilnya?

Menurut temennya Raka temen saya:

Wanita: wanita berasal dari kata “betina” atau “wani ditata/berani diatur” menurut etimologi masyarakat jawa. (ref)

Perempuan: berasal dari bahasa sanksekerta “empu” yang berarti “tinggi/terhormat” (ref)

Oke, dan saya mulai bertanya-tanya. Kenapa mereka menganggap wanita itu kurang terhormat dibanding perempuan? Bukankah kalau benar itu berasal dari kata wani di tata alias berani di atur. Hey, ada kata berani disitu. Berarti untuk ditata membutuhkan keberanian –yang menurut saya– luar biasa. Untuk berani ditata, dibutuhkan jiwa yang luar biasa besar dan legowo. Untuk mengalah –sekali lagi mengalah, bukan kalah– memberikan nahkoda kepada pria (atau laki-laki?). Apa jadinya kalau satu kapal dua nahkoda? Satu pesawat dua kapten pilot?

Terus kenapa mesti laki-laki yang jadi nahkoda? Perempuan juga bisa! Hey, bukankah perempuan lebih berjiwa besar, lebih lembut dan lebih menggunakan hati daripada kami yang laki-laki ini? Ketika kami –laki-laki– sibuk jadi nahkoda, dan tidak cukup perhatian pada anak-anak kami (nanti), kalian para perempuan bisa membesarkan anak anak kami, dan anak anak kalian dengan lebih baik daripada kami yang kurang punya hati ini.

Patriarki sekali kamu Mid? Mungkin juga. Tapi tahu apa kamu tentang saya? Jangan ad hominem gitu dulu dong. Kalau saya melakukan kesalahan pemikiran, atau logical fallacies. Silahkan dibenarkan.

Temans, hanya seorang per-empu-an lah yang wani ditata. Tolong, sekali lagi tolong. Pahami dulu dengan baik istilah (dalam hal ini istilah Jawa) sebelum berstatemen. Kalau sudah? Mungkin jalan pikiran kita beda. Saya benar, tapi mungkin juga salah kan?

Selamat hari perempuan sedunia 🙂

Sate Kambing Tegal

DSC00069

Karena propaganda bapak Kepala Suku yang bilang kalau sate kambing di dekat tempat saya itu enak, jadilah hari ini saya nyoba sate itu.

Sate Batibul Tegal. Judulnya begitu. Ada di Jalan Danau Sunter Utara, seberang Sunter Mall, gak jauh dari kosan saya. Dinamakan batibul berasal dari kata bawah tiga bulan. Karena (katanya) kambing yang dipotong dan dibikin sate disini, dibawah tiga bulan.

Rasanya lumayan, harga agak nendang buat ukuran kantong kelas pekerja pas-pasan kek saya ini. Tapi harga yang ditawarkan dan rasanya menurut saya pantas lah. Pedesnya nendang, satenya empuk, dan lalapan nya banyak. Ada tomat dan bawang merah. Sayang, pas saya kesana gak ada timun.

Dan, yang paling saya suka disini. Teh nya lebih jawa daripada di tempat lain disekitaran sini. Baik itu warteg, ataupun resto. Teh ditempat ini lebih akrab di lidah saya yang ndeso dan njowo ini.

Yang Penting Arief Sehat

A: Halo. Sudah dibeli vitaminnya?
B: … (suara di telepon tidak terdengar)
A: Gak papa, yang penting Arief sehat, Arief pinter…

Dialog itu saya dengar di tukang nasi goreng langganan saya kira-kira habis Isya’ tadi. Pekerja proyek bangunan yang tidak jauh dari situ menyempatkan menelepon istrinya di Pemalang untuk bertanya keadaan anaknya disela-sela istirahatnya (ya, dia masih bekerja. Ini tanggal merah, dan besok hari Minggu). :’)

Soal Tweet Berbayar

Agak kesal dengan yang namanya twitter. Bukan dengan twitternya, tapi dengan atmosfernya. Mungkin karena terlalu banyak yang meng eksploitasi untuk berbagai macam kepentingan. Mulai dari pencitraan politisi sampai iklan yang akhirnya melahirkan mafia tweet berbayar :mrgreen:

Soal politisi, tinggal klik unfollow saja. Gak pake repot. Nah, soal tweet berbayar ini yang agak bikin ribet dan hadeh… Menyebalkan! Mafia tweet berbayar ini mulai membayar orang-orang yang saya follow untuk mengiklankan produk atau brief apapun yang mereka mau. Unfollow? Itu seperti memutuskan tali pertemanan hanya karena teman ikutan MLM dan menjadi sangat annoying ketika menawarkan produk mereka.

Menjadi tambah repot karena sebenere banyak juga diantara mereka yang orang baik. Asik untuk dijadikan teman atau sekedar diikuti pemikirannya. Jadi ide take it or leave it sepertinya gak bakal berjalan. Se enggaknya buat saya.

Ya udah sih, namanya juga orang cari makan. Kenapa mesti riwil? Eng… Dengan analogi yang sama, pembabat hutan juga bisa digitukan? Bukan soal cari makannya sih, tapi pernah gak terpikir sama mereka bagemana kelangsungan ekosistemnya. Dalam hal ini, ekosistem si twitter itu.

Eh btw tweet atau twit sih?

New Kids On The Blog

Hello there 😀

This should be my yada yada yada for my new blog. But I think I’m not good at it. So, I’ll try my best and here we go.

Why dua januari? This blog even not created at that date? Well, actually that’s my birthday. And I don’t know, dua januari sounds poetic in my ear, and think I’m lovin it. So here’s my new what so-called “bloglife”

Rebrand? Don’t think so, but whatever I said some of you may not believe me. So you can call this rebrand. Whatever… But here’s my reason why I changed my “brand”. My #masalalu said:

kamu sudah bukan bocah, dan terlalu serius untuk dibilang miring.

That kind of make me… Oh, OK… So, I decided to move on.

Well, hello dua januari 😀

p.s. : for all pedantic and spelling bastards out there, yeah I know my english kinda amburadul! Terus kenapa ditulis pake basa enggres? Sebelume sudah ditulis pake bahasa Indonesia sih, cuma kok keliatane terlalu mendayu-dayu dan menye-menye. Jadilah pake enggres amburadul.

Sunter Hari Ini

Daerah tempat saya ini sering diolok-olok sama temen-temen saya sebagai jakarta coret. Jakarta yang bukan Jakarta. Gak ada busway, mall gedhe, banjir dan macet parah. Tapi, ada yang sedikit berbeda hari ini:

DSC00066

Sunter macet sodara-sodara! Suatu hal yang agak kurang lazim. Istilahnya ajaib! Dan btw, kunci kamar saya ketinggalan di tempat kerja. #hadeh