Beberapa waktu yang lalu, saya dan #kepalasuku ngobrol-ngobrol soal civilization. Agak aneh memang ketika enginear — ya enginear, nearly engineer — seperti kami ngomongken soal hal yang sangat sosial macam peradaban ini. Soal nyambung atau enggaknya, bermutu atau enggaknya itu urusan belakangan. Ya namanya obrolan pelepas suntuk, bukan kuliah. Hihihi.
Entah kesambet apa, kami sampai pada bahasan teori Arnold J. Toynbee soal challenge and response. Kurang lebihnya di teori itu dijelaskan, kalau peradaban berkembang karena merespon tantangan-tantangan atau kesulitan. Di Sumeria misalnya, karena siklus banjir, jadilah mereka menemukan irigasi. Atau di Indonesia sendiri, di Pulau Jawa, teknik bercocok tanam sedikit lebih maju daripada di pulau yang kaya sumber daya alam seperti Kalimantan atau Papua misalnya.
Lalu, sampailah kami pada kesimpulan. Kita, selalu mempunyai pilihan untuk pindah ketempat yang lebih nyaman, menghindari tantangan, dan membiarkan orang lain melakukannya, atau berpartisipasi dalam menjawab tantangan. Setiap orang mempunyai situasi dan kemampuan berbeda-beda. Itu yang perlu ditekankan. Kata-kata siapa suruh datang ke Jakarta, ataupun: sudah, balik kampung saja tanam jagung itu seharusnya tidak terucap karena setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri-sendiri, dan tentunya bisa mengukur kemauan dan kemampuannya sendiri-sendiri.