Soal Pilihan dan Kemampuan

Beberapa waktu yang lalu, saya dan #kepalasuku ngobrol-ngobrol soal civilization. Agak aneh memang ketika enginear — ya enginear, nearly engineer — seperti kami ngomongken soal hal yang sangat sosial macam peradaban ini. Soal nyambung atau enggaknya, bermutu atau enggaknya itu urusan belakangan. Ya namanya obrolan pelepas suntuk, bukan kuliah. Hihihi.

Entah kesambet apa, kami sampai pada bahasan teori Arnold J. Toynbee soal challenge and response. Kurang lebihnya di teori itu dijelaskan, kalau peradaban berkembang karena merespon tantangan-tantangan atau kesulitan. Di Sumeria misalnya, karena siklus banjir, jadilah mereka menemukan irigasi. Atau di Indonesia sendiri, di Pulau Jawa, teknik bercocok tanam sedikit lebih maju daripada di pulau yang kaya sumber daya alam seperti Kalimantan atau Papua misalnya.

Lalu, sampailah kami pada kesimpulan. Kita, selalu mempunyai pilihan untuk pindah ketempat yang lebih nyaman, menghindari tantangan, dan membiarkan orang lain melakukannya, atau berpartisipasi dalam menjawab tantangan. Setiap orang mempunyai situasi dan kemampuan berbeda-beda. Itu yang perlu ditekankan. Kata-kata siapa suruh datang ke Jakarta, ataupun: sudah, balik kampung saja tanam jagung itu seharusnya tidak terucap karena setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri-sendiri, dan tentunya bisa mengukur kemauan dan kemampuannya sendiri-sendiri.

Jangan Pelit, Tapi Efisien

Suatu ketika, #pabos owner kumpeni tempat saya bekerja ngomel-ngomel sama bagian purchasing.

#pabos: alat ini berapa harganya?
purchasing: *menyebut angka*
#pabos: kalau yang bagus berapa?
purchasing: *menyebut angka tak kurang tiga kali lipat dari angka semula*
#pabos: mulai besok ganti semua sama yang bagus, jangan lagi beli yang itu

Dan #pabos pun memberikan pengetahuan tambahan kepada saya. Dia bilang:

Jadi gini ya, kita itu tidak boleh pelit, tapi harus efisien. Pembelian alat misalnya. Harga alat yang bagus bisa tiga atau empat kali lipat lebih mahal. Tapi dengan begitu, produktifitas kita meningkat, potensi kita bisa jauh lebih besar. Kalau dengan alat yang lebih murah produktifitas dan potensi kita menurun, selisih harga yang kita hemat diawal sama sekali tidak berguna.

#pabos ada benarnya juga. Ambil contoh, yang simpel saja, bolpen. Kita mungkin bisa beli bolpen yang katakanlah seribuan, dengan berbagai resiko macet, tinta kurang jelas, dan seterusnya dan seterusnya. Bandingkan dengan bolpen lima ribuan misalnya. Yang hampir setiap waktu lancar buat nulis, dan menghasilkan tulisan yang jelas dibaca juga. Penghematan empat ribu jadi sama sekali tidak berguna.

Gak selamanya pelit itu efisien, dan gak selamanya efisien itu pelit. #pabos owner kumpeni saya adalah WNI keturunan Cina, yang stereotipnya – tahu sendiri lah. Tapi toh dia tidak pelit untuk beberapa hal. Malah terkadang pelitan saya, atau salah satu temen saya yang dengan bangganya mengakui kalau dia pelit. Memang sih, temen saya itu kaya. Tapi sepertinya masih kayaan #pabos

Jadi #pabos, kapan saya dibeliin MBP :mrenges:

Jakarta Keras Bung!

DSC00086

 

Foto ini adalah foto rumah tetangga yang mau dijual.

Satu rumah, berapa agen properti dan berapa broker tu yang masang coba? Apa gak bikin berantem tuh?

Dan, seandainya rumah ini ada yang tertarik. Menghubungi yang mana coba? Berapa pula itu kemungkinan si broker rumah memenangkan persaingan dengan broker lain. Jakarta keras bung! :))

Right Or Wrong, This Is My Decision

Sepertinya sombyong dan keras kepala banget ya? Ndak papa lah, memang adanya begitu. Dan keputusan ini membawa resiko juga. #ibunegara yang kesel setengah mati, satu dua teman yang bilang guoblok. Dan hati kecil saya yang kadang berkhianat 😆

Oke, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah jalan di persimpangan ruwet saya. Saya memutuskan untuk sementara tetap stay di kumpeni lama dulu, dengan segala resikonya. Memang, beberapa rekues saya belum mendapat tanggapan dari #pabos. Entah itu ditolak, diterima, atau dinego. Dan jujur, itu agak sedikit ngeselin. Tapi ada hal yang membuat saya merasa harus tetap berada disini untuk sementara waktu.

Yang pertama. Selama saya di hire, saya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat langsung, tampak nyata, dan bukan sekedar semacam apa ya namanya? Fundamental, atau pondasi mungkin. Dan somewhat unethical kan kalau saya pergi sebelum menyelesaikan apa yang saya kerjakan.

Yang kedua, entah kenapa saya merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerja disini. Di Sunter yang nun jauh ini, yang kalau orang bilang ndak ada Jakarta Jakartanya blas. Dengan ejekan #kepalasuku soal kawin, Sony yang selalu ngompori ikutan dia ngegame di facebook, dan ngolok-olok Yusin dengan penjaga warteg deket kumpeni itu.

DSC00083

Last but not least. Selama saya kerja boleh sendalan dan kaosan, I’ll be OK kok. #wahihi

Look At The Bigger Picture

Entah bahsa #enggres yang saya pake buat judul tadi bener atau enggak. Dan nyambung sama apa yang mau saya sampaikan atau enggak. Yang jelas kata-katanya kelihatan bagus 😆

Seringkali kita sudah puas melihat satu hal, terutama kalau hal tersebut sudah membuat kita berada dalam comfort zone. Kita jadi ogah memikirkan kelanjutan atau kemungkinan-kemungkinan lain, terutama yang berpotensi mengeluarkan kita dari comfort zone.

Nikmati ajalah, selagi masih bagus, selagi masih menghasilkan.

Atau mungkin, ketika idealisme kita terbentur?

Oh, tidak bisa yang begitu itu bla bla bla… Itu tidak sesuai sama yada yada yada…

Sering banget kan kita beralasan seperti itu? Sampe kadang kita gak sadar kalau dunia berubah lebih cepat dari apa yang kita duga, dan setiap hal itu tak jarang ada something else nya. Tak jarang, jauh dari apa yang kita bayangkan.

Kalau begini-begini terus dan masih meributkan itu-itu terus, bisa habis dilibas kita.
— Mengaku bernama Ricky, seorang senior yang tampaknya bergelut di dunia iklan dan ahensi-ahensian, di sebuah warung.

Jadi, kenapa kita tidak mulai memandang segala sesuatu itu dengan lebih luas?

Simpang Ruwet

simpangOkek, sudah beberapa bulan cari penghidupan di kota yang bernama Jakarta. Dan menurut kontrak saya, bulan ini sudah selesai tuh kontrak. Selanjutnya?

Entahlah, ada beberapa pilihan yang bisa saya ambil. Dan beberapa pilihan ini tak semudah kelihatannya untuk saya ambil. Semua mempunyai konsekuensinya masing-masing. Dan saya harus siap menanggung dampak dari pilihan saya.

Mungkin ini masa-masa dimana saya bener-bener galau. Bukan cuma branding (halah). Pilihan-pilihan sulit mulai berdatangan. Apa saya akan tetap di kumpeni yang sekarang, mulai menimbang beberapa tawaran, atau balik kampung tanam jagung 😆

Pilihan pertama, tetap di kumpeni sekarang. Kumpeni yang super lucu dengan teman-teman yang lucu pula. Dan selalu saja ada bahan buat bikin tertawa. Mulai dari #pabos owner yang super lucu, yang barusan beli mobil seharga milyaran tapi tetep down to earth. —  Saking down to earth nya sampe sering ngutip rokok saya #wahihi. OB yang super lucu dan gak pandang bulu – bahkan #kepalasuku pernah dimarahin loh sama OB ini, sampe pada sotoy-sotoynya #pabos MO yang sekilas mirip Pak Taka sinetron OB itu. Ah, kumpeni ini terlalu lucu untuk ditinggalkan…

Selanjutnya, ada pilihan menimbang tawaran dari beberapa teman. Memang, pilihan ini menjanjikan pendapatan yang lebih baik. Ada yang menawarkan bahkan sampe dobel dari yang saya dapat sekarang. Meskipun money isn’t everything, but it’s a thing rite? *mrenges*

Dan pilihan terakhir, saya balik ke Jogja, balik lagi dengan teman-teman yang super menyenangkan. Tapi, itu berarti ngere lagi. Meskipun sangat-sangat menyenangkan, tapi kalau saya pilih ini, saya jadi pengangguran entah sampai kapan. Karena di kota yang saya cintai ini, belum ada juga sesuatu yang tampak memberikan saya pendapatan. Kembang-kempis kawan!

Jadi mesti bijimana ini?

Kasih Emak

DSC00081

Hari ini melihat pemandangan yang cukup wow waktu mau berangkat kerja.

Dalam perjalanan berangkat kerja (hadeh, perjalanan, tapi memang bener jalan sih) saya mampir warung kopi langganan yang gak jauh dari kosan buat sekedar ngeteh ngeteh dan ngerokok, saya melihat pemandangan yang cukup menentramkan hati ini.

Seekor kucing dan anaknya yang baru lahir :’)

Mereka Bilang, Kastemer Is A King

Pernah gak sampeyan kesal sama yang namanya promo atau iklan? Saya sering sih. Terutama sama iklan-iklan yang gak “manusiawi”.

Gak manusiawi gimana? Gimana ya nyeritakennya. Nyebelin, nyebahi, dan memposisikan diri kita, konsumen itu sebagai target. Bukan lagi manusia yang bisa berpikir dan mengambil keputusan. Okelah, yang namanya iklan memang  bertugas menggiring kita ke tujuan si iklan itu. Tapi, kalau boleh saya ingatkan, iklan seharusnya menggiring, mengarahkan, bukan memaksa. Kalau kata salah satu iklan tipi jadul, kastemer is a king. – not a slave–.

Main masif! Kira-kira begitulah tren sebagian iklan sekarang. Mulai dari bermacam billboard iklan segede gambreng di jalan yang merusak pandangan, sewa space iklan gede-gede di media cetak terkenal. Iklan radio atau tv yang diulang-ulang, sampe ke media-media baru, tetap dengan kemasifannya. Tag membabi buta di facebook, maupun bayar serombongan buzzer di twitter untuk #twitberbayar berulang-ulang. Jadi terkesan memaksa kan ya? Bukan lagi menggiring.

Saya jadi bertanya-tanya, sudah turunkah kreatifitas teman-teman orang iklan itu sehingga tidak bisa lagi “main cantik” buat mencapai tujuannya? Atau kita (dianggap) tidak cukup pintar dan cukup latah untuk mengikuti apa saja maunya iklan-iklan itu? Mboseni memang. – Ya, kita manusia juga umumnya bisa bosen —

Buat temen-temen yang kebetulan jadi orang iklan, atau orang iklan yang kebetulan mau jadi temen saya. Saya sotoy ya? 😆

Yang Murah Saja…

DSC00075Sebenere barang ini sudah cukup lama saya beli, tapi baru sempet diceritakan dan  difotokan sekarang.

Sebotol minyak wangi, edisi tester. Yang sebenarnya gak boleh dijual belikan sama pabrikan nya. Hihihi.

Di toko minyak wangi atau parfum kadang sebelum memutuskan membeli, kita diberi tester atau sampel dari bau minyak wangi itu. Nah, sarana promosi itulah yang saya beli dari tokonya. Wanginya sama, harga jauh lebih murah. Hihihi.

P.S. Gak semua toko menyediakan tester, atau mau menjual tester mereka, itu semua tergantung keberuntungan dan sepik iblis sampeyan pada penjual atau spg nya #wahihi