Balada Lemper, Pastel dan Telor Rebus

Kalau ditanya, makanan apa yang menurut saya sangat istimewa? Bisa dipastikan jawaban saya adalah lemper,  kue pastel dan telor rebus. Gak ada yang istimewa dari makanan ini bagi kebanyakan orang. Tapi bagi saya, ketiga makanan ini istimewa sekali.

Makanan yang biasa dijadikan gandulan (semacam buah tangan orang hajatan, diberikan pada tamu hajatan dengan tujuan untuk dinikmati di rumah) orang hajatan ini mempunyai cerita tersendiri di bagian kecil kehidupan saya, sehingga membuat makanan ini begitu istimewa dan menjadikannya salah satu makanan terenak versi saya.

Ada suatu waktu, dimana keluarga saya begitu pas pasan nya, hingga kami bisa makan layak 3x sehari pun terasa sangat mewah, gak peduli dengan lauk apa. Pokoknya bisa ganjel perut. Di waktu-waktu inilah, saya jarang bisa ketemu makanan istimewa, yang bisa dibilang enak, tidak seperti makanan saya biasanya. Sekalinya ketemu, bisa dipastikan itu adalah hasil dari kendurian atau hajatan, yang sering kali berupa satu kotak makanan berisi lemper, pastel, dan telur rebus.

Kini, keadaan saya mungkin sudah jauh lebih baik daripada masa-masa itu. Ketika saya sudah mulai bisa tersenyum simpul karena berhasil melewati masa-masa itu, tetap saja lemper, pastel dan telur rebus terasa begitu istimewa di lidah saya.

Istimewa memang tak selalu harus luar biasa.

Kelakuan Atau Keahlian

Beberapa bulan lalu, saya diminta mencarikan orang buat proyek temen saya. Dia bilang:

“Mbok saya dicarikan programmer, kualifikasinya bisa begini begini begini. Gak usah pinter-pinter gakpapa, asal attitude nya gak aneh aneh”

Permintaan teman saya itu membuat saya berpikir, sebagian orang-orang pinter itu sampai sebegitu ndak tertib nya kah? Apa karena mereka sudah merasa pinter dalam bidangnya, lalu berbuat semaunya sendiri?

Bisa jadi, saya pernah menemui beberapa orang yang sangat ahli di bidangnya, dan bisa saya bilang, orangnya “ora enak dipangan”. Kelakuannya semau sendiri, bikin gak enak ati temen satu tim, dan seterusnya dan seterusnya. Dan kelakuan yang “ora enak dipangan” itu tadi, menghambat proses kerja tim secara keseluruhan.

Hm… Bener juga kata salah seorang temen saya. Kurang lebih dia bilang:

keahlian tanpa kesantunan tidaklah elegan.

Hamid, mencoba menjadi lebih elegan *lah kok #melantip*

Sesimpel Alhamdulillah

Beberapa waktu yang lalu, saya naik taksi. Dan seperti biasanya, sedikit basa basi sama supir taksinya, sudah berapa lama, hari ini sudah ngangkut berapa, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketika sampe di tempat tujuan, ongkos saya bayar, dan ada lebihan beberapa ribu rupiah, dan saya bilang, sudahlah Pak, bawa saja buat ngopi-ngopi. Di luar dugaan saya, supir taksi itu berujar

Alhamdulillah…

Dengan sangat tulusnya. Salah satu ucapan tertulus yang pernah saya dengar.

Hal itu seperti memberikan saya sebuah oase di tengah padang gersang bin gila bernama Jakarta. Yang orang orang bilang, serba keras, serba gak nyaman, dan serba penuh kerakusan…

Sekaligus, ucapan itu bagaikan menampar saya langsung, to the point kalau orang-orang kelas menengah yang #keminggris bilang. Ucapan itu membuat saya bertanya-tanya. Sudahkah saya cukup bersyukur atas apa yang saya dapat? Atau malah saya malah menjadi makin rakus dan ingin mendapatkan lebih lebih dan lebih lagi.

Sesimpel ucapan alhamdulillah, bisa membuat hati saya tenang dan adem, sekaligus menampar saya langsung…

Ngomong Sama Siapa?

Pernah melihat, mendengar atau membaca ini? Dimana saja, di warung, restoran, kafe, atau bahkan situs jejaring sosial?

Waah iPhone ini fiturnya keren, bisa bla bla bla… Kameranya bla bla bla… Aplikasinya bla bla bla…

Atau mungkin

Android ini asik, bisa diutak atik semau kita, responnya kenceng! Yada yada yada…

Masalah? Bagi saya sendiri tidak. Terutama kalau itu diomongkan di tempat yang pantes, dalam kafe yang agak mahal, dimana kira-kira semua orang bisa mengejar apa yang diomongkan. Ataupun kalau di dunia maya, diomongkan di group jejaring penggemar gadget, ataupun di mailing list yang temanya senada.

Menjadi menyebalkan apabila hal itu diomongkan di tempat yang kurang tepat. Di tempat yang punya audiens lebih general. Seperti akun twitter ataupun status facebook misalnya. Kenapa menyebalkan? Apa saya saja yang iri? Iya, saya iri. Dibilang begitu saya gak keberatan kok. Tapi pernah gak membayangkan ini:

Saya ngetwit: selamat pagi teman-teman iphonesian, motret apa hari ini? Atau mungkin: selamat pagi droiders, udah nyoba droid baru yang dual core? Sementara, ada satu atau dua follower saya yang masih ngetwit pake hape pas-pasan dengan harga ratusan ribu.

Ya tinggal di unfollow atau unfriend aja to kok repot? Hm, logika ini, selain saya anggap lucu, juga kurang bijak menurut saya. Tapi toh ini cuma menurut saya. Karena di bayangan saya itu seperti ngomong di suatu pertemuan, dan mengusir orang yang tidak nyaman dengan bahasan kita.

Halah Mid, mau ngiri aja belibet nulis panjang lebar…

Simpatik

Adalah teman saya Bagas, atau lebih sering kami panggil Djojo, Joyo, ataupun variasi tulisan lainnya, pokoknya bunyinya Joyo. Yang saya tahu sudah menjadi penggiat dan evangelist sepeda, sejak yang namanya sepedaan belum terkenal, dan menjadi hips. Joyo ini pulalah (sepanjang yang saya tahu) yang berhasil membuat Iqbal Arab bersepeda. — Iqbal ini sekarang salah satu orang yang paling rajin bersepeda yang saya tahu. Sudah menempuh rute Jogja – Solo, Magelang, Wonosobo, dan seputaran Jawa Tengah lainnya.

Adalah kesimpatikannya yang membuat Joyo ini berhasil membuat banyak orang bersepeda.Dengan tanpa koar-koar, rendah hati, dan dengan cara yang asik, dia berhasil membuat orang lain tertarik soal sepeda-sepedaan ini. Lihat saja, blog Joyo ini. Adem ayem, gak tengil meskipun benar, terbuka, dan dengan ajaibnya bisa membuat kita bilang, oh iya yah.

Tak perlu mengajak mereka bersepeda katanya. Pernyataan ini yang membuat saya berdecak kagum. Oh wow! Keren sekali pemikiran dari Joyo ini. Sangat simpatik, dan sekali lagi, saya hanya bisa bilang: Wow!

Ah, Joy, seandainya semua penggiat sepeda itu sepertimu, bukan evangelist dadakan yang antikritik. Saya tidak berniat mengadu, tapi kalau saja banyak orang lebih adem sepertimu. Dan gak menjadi arogan karena sedang menjadi mayoritas…

Enam Bulan

Enam bulan itu, waktu yang lumayan lama. Dengan menterengnya kita bisa juga menyebut si enam bulan ini dengan setengah tahun. Dan inilah yang terjadi pada saya, kira kira enam bulan lalu…

Enam bulan lalu, saya balik lagi ke ibu kota, dengan keadaan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Enam bulan lalu, saya bikin seorang teman lama menganga karena keputusan saya.
Enam bulan lalu, saya mereboot hidup saya, menjadi seorang pekerja rata rata.

Selamat setengah tahun jadi kelas pekerja!

Sombong Tanggung

Beberapa waktu yang lalu, saya ditawari pekerjaan di sebuah tempat yang mayan keren sama temen saya. Tapi kali ini, harus pakek surat menyurat yang saya gak pernah bisa. Hihihi.

Karena teman saya yang nawari ini salah satu teman baik saya, jadilah saya bikin itu paperworks. Selain buat nglegani, karena teman saya itu sudah nawarin pekerjaan yang bisa dibilang keren di tempat yang lumayan keren juga. Toh juga iseng iseng berhadiah juga. Sapa tau dapat. Meskipun saya gak banyak berharap juga. karena istilahnya, yang tahu saya dan apa yang saya kerjakan cuma si teman saya itu.

Jadilah resume acakadut saya. Atas wangsit dari teman saya yang nawarin itu, saya kirimkan email ke dua orang petinggi kumpeni tersebut, dengan disertai bcc ke beberapa teman baik saya yang bisa dibilang kaum propesional muda lah.

Dan… Salah satu temen saya yang sudah cukup sukses lewat skype bilang: Bah, tanggung kali resume mu ini. Humble ala Indonesia enggak, confident dan sombong ala bule juga enggak. Lain kali kalau bikin resume yang concise macam ini, disombongin dikit lah. I know you did better than what you told.

Dan errr… Kalau dipikir pikir dia ada benarnya juga sih. Tapi gimana ya? Saya gak sampe hati buat nyombong, yet again kalau terlalu humble, nanti belakang belakangnya susah kalau mau nego sesuatu ke kumpeni.

Jadi, apa kabar resume tanggung itu? Entahlah, gak terlalu saya pikirkan juga. Dan saya masih cukup bahagia juga di kerjaan sekarang, karena saya tahu, saya bekerja bareng orang-orang baik 😀

Trus? Niat gak sih itu sama tawarannya? Eng… Lumayan sih, apalagi kalau tawarannya cucok. Let’s say, ada asuransi dan eng… Dua ribu atau tiga ribu sebulan. #ngayalbabu

Liburan

Beberapa hari yang lalu, ada tanggal merah yang deket deket dengan weekend. Jadi kalau istilahnya orang kota: long weekend. Jadilah saya pulang buat njenguk emak dan memenuhi hasrat naik kereta api. Sudah ada mungkin dua tahunan saya ndak naek kereta

Berangkat dari stasiun pasar senen, saya menemukan ini di sebuah toko waralaba

DSC00002

Sebuah nasi kotak. Karena memang belum makan, boleh juga nih pikir saya.

Harganya juga gak mahal mahal amat. 17 ribu, nasi kuning pake ayam, sambel, oseng-oseng + aer dingin. Mayaaan 😀

Trus, gak banyak yang bisa diceritakan, karena dapatnya kereta bisnis, sering berhenti di setiap stasiun, termasuk yang kecil-kecil saya anggap wajar lah. Yang kurang ngenakin, banyaknya penumpang gelap yang berprinsip bayar diatas. Hingga keretapun jadi penuh sesak dan kurang manusiawi. yang seharusnya buat jalan, dan sambungan gerbong pun ada penumpangnya, beralaskan koran atau apalah. Gak jauh dari kereta ekonomi jadinya. Entah apa bedanya kereta yang saya tumpangi ini dengan kereta ekonomi. Agak nggak ngenakin, tapi ya mau gimana lagi?

Pagi-pagi bener sekitar jam 6 an, sampelah saya di stasiun Tugu, Jogja. Dibangunkan bapak-bapak sebelah saya yang mau ke Solo. Minggu pagi di Jalan Malioboro. Ternyata jalan ini ditutup buat olahraga pagi. Jadilah saya ikut jalan-jalan dulu menyusuri Jalan Malioboro yang legendaris itu.DSC00003

Minggu pagi yang cukup rame, banyak orang berolah raga, sekedar jalan pagi atau senam. mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak kecil sampe mbak-mbak semongkow! ;)) – saya tah, no pic = hoax. tapi saya malu e mau motret mbak-mabak semongkow itu 😆

Setengah hari di rumah, sorenya saya jenguk Mas Veta dan Obe yang sudah pandai merangkak dan bisa berdiri sendiri 😀

Hari selanjutnya, saya mengunjungi salah satu orang yang banyak berjasa dalam hidup saya, sebut saja Lantip, yang tampak makin buncit subur makmur ;)). DSC00004

Sodara beliau ini lah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidup saya. Entah sudah berapa kali saya lapar dan numpang makan sama dia.

Sodara beliau ini juga dikenal senior dalam bidang onlen-onlenan. Istilahnya kalau gak kenal Lantip, sepertinya belum sah jadi pendekar onlen. Hihihi.

Dan… Ah sayang sekali, mesti balik ke kenyataan lagi, mesti nguli lagi. Setelah cukup puas maen kesana kemari, ngangkring di tempatnya Arga, juga kongkow bareng Mas Yan, Dan makan gorengan emak yang enak itu..

DSC00005

Eh iya, bakwan emak ini enak sekali. Sederhana memang, tapi beneran luar #biyasa.

Dan, besoknya, lagi, saya mesti balik ke tempat kerja lagi. disetani game lagi sama Sony, dan diejekin soal kawin lagi sama #kepalasuku. Bah!

Dan di perjalanan balik ini, lagi-lagi gak kesampean naek kereta Argolawu yang legendaris itu. Dapat kereta Taksaka dengan jendela yang pecah karena diisengin orang *hadeh*. Dan tempat duduk yang super nyaman – saya duduk di dua kursi karena sebelah saya kosong.

DSC00006DSC00007DSC00011DSC00012

Eh iya, baru pertama naik kereta Taksaka ini lumayan juga. Servis nya bagus, fasilitas komplit, bahkan ada stop kontak buat nge charge gadget atau barang-barang elektronik yang kita bawa. Dan juga, hrates karaoke di gerbong restorasi. – kalau ada lagunya sih.

Warna Warni

Saya adalah orang orang yang termasuk beruntung. Saya punya cukup banyak teman yang berwarna warni, datang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang pol mentok bawah sampai yang bisa dibilang berada. Saya kenal orang yang tinggal di kontrakan petak dengan rumah kayu, dan entah kenapa pula bisa kenal sama orang yang mampu beli piaraan seharga mobil bekas, earn more than I can imagine to spend.

Teman teman yang berwarna warni itu, bener-bener memberikan banyak insight pada kehidupan saya. Dan saya bisa bilang, itu adalah salah satu hal yang paling berharga yang diberikan Tuhan sama saya. Saya bisa melihat ke bawah untuk bersyukur, dan kadang melihat ke atas untuk menyemangati hidup.

Once upon a time, I am somebody, sampai Tuhan menjadikan saya nobody. Pelan-pelan mulai merangkak lagi, dan jatuh lagi. Sekarang? Sedang mencoba untuk merangkak lagi. Dan teman-teman anugerah Tuhanku itu benar-benar terasa sebagai sesuatu yang sangat berharga. Teman-teman saya yang berwarna warni ini pula lah yang membuat saya cukup kuat untuk bertahan dari cobaan yang sepertinya agak terlalu berat bagi saya.

Buat teman-temanku yang (mungkin) membaca ini. Makasih ya? Gak kebayang apa jadinya saya tanpa kalian. :’)

What A Lazy Afternoon

Jam makan siang,Hujan masih agak rintik-rintik jadi bikin males makan siang. Dan kira-kira beginilah tempat kerjaan saya 😆

DSC00093

Yang di kiri adalah Sony dan Yussin. Yang dengan wajah males ndak tahu sedang ngapain juga. Dan yang di kanan, saya yang sedang selonjoran karena kebawa arus males.

Itu semua mungkin karena ini nih:

DSC00094

Kepala suku yang berangkat kehujanan, berasa kurang enak badan dan minum obat yang akhirnya bablas XD *ngungsi ke Uzbekistan*