Soal Kelanjutan

Hari ini masih selo. Blahbloh seperti biasanya. Wacana sudah satu persatu dikerjakan. Tinggal entah nanti akhirnya menghasilkan atau cuma tinggal wacana kek biasanya.

Dalam ke blahbloh an saya ini, saya mulai berpikir. Lalu bagaimana kelanjutan hidup saya? Apa mau gini-gini saja? Apa mau yang lain? Mau apa sih sebenarnya? Entahlah. Saya juga gak ngerti sama diri saya sendiri.

Akhir akhir ini bahkan saya agak gak berani punya kemauan atau mimpi. Semacam kapok ditroll sama kahanan. Berencana ya ini ya itu. Berusaha sebaik baiknya. Jalan ini jalan itu. Tapi kok ya ndilalah hasilnya kadang begitu begitu saja. Kadang malah lagi-lagi wacana.

Kusut ya tulisannya? Iya, sekusut hati dan otak saya di siang yang panas ini.

Nine Months Madafaka!

It’s been nine months and here I am, still somewhat unemployed. But hey! I still alive, and trying to kickin! 😆

It’s kinda hard being unemployed for quite long time. Imagine how hectic my days. Manage this and that, tried this and that. And ah well, there’s a routine headache when the date is near twenty. All hail utility bills!

But, it’s nice to have few good people around me. They help me a lot by giving me something to do. It’s not much, not what I expect, but surely they’ve save my ass many times.

Hamid, someone who can’t use proper English. But somewhat uncomfortable using his native language for swearing.

Kesetaraan

Gak tahu kenapa tiba-tiba pengen ngomongken soal ini. Mungkin, karena terjadi banyak hal yang semacam tidak sepantasnya, bahkan bisa dibilang setengah menipu. Ambil contoh, yang akhir-akhir ini sering terjadi di sekitar saya, soal “dagang”.

Namanya berdagang kan sah-sah saja, asal sama-sama mau. Kenapa mesti diributkan?
Nah, prinsip inilah yang menjadi awal masalah. Memang benar, asal mau sama mau, deal, selesai sudah. Gak salah memang, cuma seringkali terasa aneh ketika sampai hal kepantasan.

Misal, suatu ketika saya mendapatkan orderan untuk mengerjakan sesuatu dengan upah sepuluh ribu. Setelah itu saya lempar lagi ke teman saya. Saya bilang, ente ngerjain ini. Dua ribu mau gak? Dengan sedikit tawar menawar alot, dengan lugunya dia sepakat untuk mengerjakan kerjaan itu dengan upah tiga ribu. Saya untung tujuh ribu! Dua kali lipat lebih dari apa yang dia dapat. Simply karena dia gak tahu jalannya, gak tahu harga pasar, atau memang lagi butuh duit.

Salah? Enggak. Pantes? Itu ukurannya berbeda-beda. Tergantung tingkat ketegaan masing-masing. Barokah? Ndak tahu, itu urusan Tuhan. Bukan urusan saya.

Etis vs realistis
Di dunia yang ideal, seharusnya hal tersebut tidak terjadi. Tidak etis! Tapi bung, etis gak etis, saya realistis. Toh kalau tidak ada saya, temen saya yang tadi juga gak dapet duit. Karena ada saya, dia bisa jadi dapet duit. Suka sama suka. Itu sudah!

Iya, iya… Realistis, tapi apa ruginya sih sedikit fair? Apa itu memang sudah fair karena temen saya itu dengan tiga ribu sudah cukup, sementara saya tujuh ribu dan belum tentu cukup? Kebutuhan orang beda beda.

Iya, iya. Adil atau fair tidak berarti selalu sama rata karena kebutuhan orang beda-beda, hak dan kewajiban dan tanggung jawabnya tidak mungkin sama juga. Tapi… Yagitulah!

Judulnya Hampir Posting

Postingan ini semacam pengingat, buat posting nantinya kalau sudah agak selo. Wacananya sih bakal posting soal saya yang pengen membuat sesuatu, soal kesetaraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oke, yang terakhir lebay.

Nah. Kalau ada yang kecewa, posting kok begini thok, harap salurkan dengan hal hal yang positif. Jangan corat coret kek foto di bawah ini.

image

Kelebihan Muatan

Banyak teman yang mengira saya selo. Selo banget malah. Pemuda desa belum kerja, tiap hari mainan twitter, ngejekin orang, de es te de es te. Tapi sebenere. Beban yang ada di kepala dan hati ini penuh sekali kurasa. Gak terlalu berat mungkin, tapi menuh menuhin… Ibarat truk, mungkin kepala ini seperti ngangkut kapas mungkin.

Ya ini ya itu, masalah saya sendiri, ataupun masalah orang-orang sekitar. Selalu saja saya gagas. Duh! Sempat sempatnya Mid. Kek hidup dan penghidupanmu sudah bener aja.

Eng… Belum juga sih. Lalu apa yang mesti saya lakukan? Stop peduli? Sepertinya kok bukan saya banget yah? Trus, mesti berbuat apa?

Duh. Aku kelebihan muatan! Meskipun (untungnya) belum kelebihan beban.

Balada Pisang Rebus

Malam ini Jogja Raya dingin betul saya rasa. Dan rasa dingin ini membuat saya agak susah tidur. Susah tidur ini membawa efek samping yaitu lapar. Ubek ubek dapur, saya temukanlah beberapa pisang rebus. Sang pisang pun saya makan sambil dalam hati bilang: lumayan…

Belum habis sang pisang saya makan, dengan ajaibnya saya menerawang, tiba tiba terlintas dalam pikiran sebuah balada. Balada pisang rebus.

Pisang rebus ini, kalau di Jogja banyak dijajakan oleh simbok-simbok yang sudah cenderung tua. Rata-rata mungkin sudah setengah baya, tak jarang juga ada yang simbah-simbah. Sosok mereka inilah yang membuat saya menerawang. Jauh di pojokan-pojokan jalan bersama lampu minyak temaram. Simbok-simbok dengan gendongan jajanan aneka macam rebusan. Pisang, kacang, kedelai. Semuanya direbus, dan kadang kalau sudah malam , rebusan itu tak lagi hangat. Menyerah kalah oleh hawa dingin malam.

Magis! Bagaimana ketekunan simbok-simbok itu menunggu pelanggan. Di pojokan-pojokan jalan, di tempat yang anehnya biasanya agak lengang. Mereka menunggu satu dua orang yang datang untuk membeli dagangan mereka, dan mengumpulkan beberapa ribu keuntungan.

Bayangan simbok-simbok pisang rebus itu membuat saya bergidik. Di belakang tempat tinggal saya, sayapun dibuat hilang akal sambil dengan bodohnya tetap memegang pisang yang belum juga saya makan.

Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan Mid?

Dua Belas

Hari ini lagi rame 12.12.12. Katanya sih tanggal cantik. Padahal kalau dipikir pikir lagi 12.12.2012 ya, gak ada cantik cantiknya. 😆

Eniwei, di tanggal yang so called cantik ini banyak yang menjadikannya hari spesial. Nikahan, melahirkan, sunatan mungkin. Atau buat yang lagi kasmaran, bida juga diniatkan buat nembak pasangan.

Buat saya sendiri, tanggal cantik ini mungkin gak terlalu berarti apa apa. Masih sama seperti hari hari biasanya. Masih berjuang sama keadaan, ngimpi soal rumah, hidup dan penghidupan. Gak ada yang terlalu spesial. Masih gini-gini aja. Mimpi-mimpi sebagian masih tetap menjadi mimpi.

Ah iya, buat sampeyan sampeyan yang berbahagia hari ini. Selamat yah. Kalau ada sedikit waktu, doakan saya juga semoga cepet kecapai apa yang saya angan angankan.

Hamid, seseorang yang masih bersyukur karena punya mimpi.

Hidup Itu…

Hidup itu seperti roller coaster. Kadang naik kadang turun, bisa jadi menyenangkan ataupun menakutkan. Dan ini roller coaster saya…

Kurang lebih satu tahun yang lalu, saya membuat sebuah keputusan, yang bagi beberapa orang mungkin terlihat kontra produktif. Saya pulang ke Jogja, balik kandang lagi. Melupakan apa yang mereka sebut karir atau apalah.

Banyak yang bertanya kenapa toh saya memutuskan begitu. Entahlah, saya juga tidak tahu. Padahal kalau dipikir-pikir, selain tempat perputaran uang dan menjanjikan jenjang karir yang luar biasa, saya juga meninggalkan satu dua hal yang dapat menyenangkan hati di ibu kota.

Singkat kata, akhirnya saya pulang dan ditampung salah satu teman baik saya yang sudah saya anggap kangmas sendiri. Dan mulailah saya berkarya. Kurang lebih, setengah tahun saya bekerja bareng sama saudara beliau. Ya berencana dan mengerjakan ini lah, itu lah. Macam-macam pokoknya. Sampai kemudian terjadilah awkward moment itu. Saya tidak bisa lagi bekerja sama dan mengabdi kepada kangmas saya yang satu itu.

Kurang lebih enam bulan lalu, saya memulai semacam hidup baru, dan segudang rencana dikepala. Dan well, shit happens. Manusia berencana, dan keadaanlah yang ngetroll. Belum genap tiga bulan berencana, ada saja hal yang bikin rencana mundur bahkan mandeg. Dan dengan ditroll oleh si keadaan itu, saya pun mulai realistis. Saya mesti cari kerja lagi!

Kurang lebih sebulan saya mencari kerja. Jual diri, masukin cv atau resume sana sini. Ada yang gak dibales, ada yang suruh kirim ulang pake bahasa Inggris (padahal mereka ngasih gajinya rupiah loh), dan ada juga yang sepertinya tertarik dan manggil saya. Macem macem. Ada SOHO, UKM, kumpeni nasional, sampai saya ditawarin jadi TKI. :mrgreen:

Tapi, entah kenapa ketika satu dua tawaran mulai datang, ada suatu hal dalam diri saya yang bilang, sudahlah. Sabar sebentar dan bertahan. Duduk dulu… — dan saya pun menurutinya. Dengan segala resiko makin kacau balaunya hidup saya.

Dua bulan kemudian, disinilah saya. Mendapat sedikit titik terang untuk terus berjalan. Sambil berusaha membangun kembali hal lama yang hampir bisa dibilang remuk redam, saya juga memulai hal baru yang entah kenapa juga saya merasa nyaman, merasa cocok dan merasa yakin dengan jalan ini.

I don’t know whether it’s good or bad. But… I’m working with those noob bastards. — yes, you know who you are. 😆