Arsip Kategori: Uncategorized

Zakat Ala Saya

Gak kerasa ya? Lebaran sebentar lagi. Sudah pada bayar zakat belum? Selain zakat fitrah, ada juga zakat mal.

Kali ini, saya pengen ngomongin soal zakat fitrah. Zakat yang biasa kita bayar dengan bahan pokok — umumnya beras —

Sudah lima tahunan, saya membayarkan zakat fitrah saya langsung kepada yang saya anggap membutuhkan, dengan wujud uang tunai. Bukan bahan pokok seperti layaknya orang-orang. Saya punya alasan sendiri kenapa saya memilih jalan itu.

Begini, pernahkah sampeyan berkunjung ke pedagang bahan pokok pada masa-masa hari raya? Saya pernah. Disana saya temui banyak penerima zakat yang menjual lagi beras yang diterimanya karena mempunyai kebutuhan lain yang lebih mendesak disamping bahan pokok. Selain itu, stok bahan pokok mereka di saat itu, bisa dibilang cukup melimpah.

Bukankah mubadzir, kalau bahan pokok itu akhirnya harus dijual kembali dengan harga yang tentunya lebih rendah dari harga jual si pedagang. Katakanlah harga jual 2,5 Kg beras (satu paket zakat) adalah 15 ribu, mungkin hanya bisa dijual kembali seharga 10 sampai 12 ribu.

Jadi, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan kalau zakat dengan bentuk uang tunai jauh lebih bermanfaat bagi si penerima. Dan saya melakukan apa yang menurut saya baik dan bermanfaat. Soal kenapa mesti langsung? Tidak melalui masjid atau lembaga-lembaga zakat, saya cuma khawatir kalau zakat saya dibelikan beras sama panitianya.

Saya Suka Sendal Jepit

Dsc00824_1

Alas kaki favorit saya: sendal jepit!
 
Kurang apa coba? Murah meriah, nyaman, dan anti selip. Hehe. Meskipun
banyak yang mendiskriminasi si sendal dan pemakainya
 
Foto diatas diambil beberapa bulan lalu di sebuah tempat dugem di
Jogja, dan coba tebak? Butuh 3 JD supaya saya dan sendal saya bisa
masuk. Kalau pake sepatu? Beli cola aja boleh masuk 🙁

Kapan Puasa Kapan Lebaran?

Belakangan ini heboh diberitakan kalau Pemerintah memajukan hari raya Idul Fitri menjadi tanggal 20. Ada juga ormas yang sudah haqul yakin kalau lebaran jatuh tanggal 20 juga, berdasar hasil perhitungan ahli hisab mereka. Meskipun ada juga yang bersikap hati-hati dengan menunggu hasil ru’yat sebelum mengumumkan kapan hari raya lebaran akan dilaksanakan.

Nha, menurut bapak saya dan beberapa tetua di kampung saya, kemungkinan besar memang lebaran jatuh pada tanggal 20, melihat posisi bulan yang lebih tua dari seharusnya. — Misal: bulan tanggal 14 lebih terlihat bulat daripada bulan tanggal 15 — , alias kemungkinan, 1 Ramadhan kemarin seharusnya lebih cepat satu hari.

Terlepas dari berbagai kontroversi kapan puasa dan kapan lebaran, saya pribadi menganut pada putusan pemerintah. Yang tentunya banyak mempunyai staff ahli buat menentukan kapan puasa kapan lebaran. Disamping itu, toh pemerintah dalam hal ini departemen agama selalu mengadakan sidang isbat yang melibatkan banyak ormas keagamaan sebelum memutuskan kapan puasa kapan lebaran.

Kalau sampeyan?

Xenon Flash Makin Langka?

Dsc00999

Ini adalah hasil foto pakai Sony Ericsson K800i jadul saya yang umurnya sekitar dua tahunan. Dan, yak. Foto itu diambil dalam keadaan mati lampu.
 
Memang, sudah mulai kemakan usia itu hape. Sudah baret sana sini gak karu-karuan. Ganti hape? Ada dua alesan saya belum ganti hape, pertama, gak ada duit, dan yang kedua, kebanyakan produk SonyEricsson favorit saya mengganti Xenon Flash dengan LED flash biasa. Too bad…

All Hail The Dark Lord

Siang tadi, lewat YM saya ditanya. Apa saya kenal dengan Ketua nya @jogtug, dan saya pun bingung mesti menjawab bagaimana. Lha wong @jogtug itu lebih seperti jaringan, tidak seperti komunitas pada umumnya yang mempunyai so called “Dark Lord” yang mengampu, mengatur dan mesti menyetujui semuanya. Alhasil, saya jawab saja, silahkan kontak melalui web nya. Dan tampaknya jawaban saya kurang memuaskan beliaunya, karena tidak dapat menemukan orang yang tepat :mrgreen:

Fenomena “Dark Lord” ini sudah seringkali saya temui di berbagai komunitas. Baik itu komunitas so-called hacker, blogger, pecinta motor, dll dll. Umumnya, founder, early adopters, atau orang yang banyak menguntungkan komunitas itu lah yang nantinya muncul menjadi figur “Dark Lord” yang memegang semuanya.

Jadi, saya kira wajar kalau sampai ada orang yang berpandangan kalau komunitas itu mesti ada yang “megang”, termasuk orang yang bertanya pada saya tadi siang, yang tampaknya mau ada urusan penting sama @jogtug

Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa

Hormatilah orang yang berpuasa.

Hormatilah bulan puasa.

Dua kata-kata itu mungkin sudah sering sampeyan lihat. Atau sampeyan temui di jalan jalan. Dan saya ndak akan mengulangi himbauan itu di blog saya ini.

Saya pengen menghimbau sampeyan hal yang agak sedikit berbeda. Hormatilah orang yang tidak berpuasa

Terutama bagi sampeyan-sampeyan yang berpendapat agak keras, mari kita kaji sama-sama; Salah satu esensi puasa adalah menahan hawa nafsu, menahan amarah yang timbul dalam diri. Kurang lebih begitu ya? Oleh sebab itu, jangan kotori puasa sampeyan dengan memandang sinis, apalagi nempelengi orang-orang yang tidak berpuasa, merusak warung-warung, atau tempat hiburan yang buka pada saat puasa, dan berpatroli ke tempat-tempat tongkrongan anak muda, dan membentak mereka untuk bertarawih.

Tidak, tidak, saya tidak melarang sampeyan buat berdakwah di bulan puasa, saya juga bukan setan yang memlintir hal-hal yang tidak benar menjadi benar dan sebaliknya. Saya juga Insya Allah berpuasa.

Saya hanya mengingatkan bahwa hal-hal yang demikian disamping mengotori puasa kita, juga malah menjadikan blunder, membuat sesuatu yang kita maksudkan sebagai dakwah malah berdampak negatif, membuat umat beragama lain tidak simpatik, dan kemungkinan membuat saudara-saudara seiman menjadi murtad. Kalau orang itu jadi murtad, sampeyan mau tanggung jawab? :mrgreen:

Jadi buat saudara-saudara saya yang berpuasa, hormatilah saudara kita yang tidak berpuasa, seperti kita menuntut saudara-saudara kita yang tidak berpuasa untuk menghormati kita. 🙂

Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya…

To Err Is Human, To Forgive Divine

To err is human, to forgive divine.

Yang terjemahan ngawurnya kurang lebih begini: adalah manusiawi berbuat kesalahan, tapi diperlukan hal yang luar biasa untuk bisa memaafkan.

Terjemahan ngawur saya tadi munkin kurang tepat dalam mengartikan divine. Divine itu sendiri bisa diartikan sebagai sifat Tuhan yang Maha Memaafkan.

Lho, kok jadi main idiom Inggris begini? Mungkin karena saya ndak bisa memikirkan pembukaan tulisan yang ciamik :mrgreen:

Baiklah, bertahun-tahun saya pakek pegangan itu, memaklumi dan memaafkan “err” teman-teman saya, orang-orang di sekitar saya. Perasaan saya? Lega banget, I’ve divine! 😆 . Tapi ternyata, pegangan saya itu membuat teman-teman saya, orang-orang sekitar saya, egois sama saya. Selalu menuntut, meminta, dan gak pernah berkaca.

Ambil contoh begini. Seorang teman datang pada saya, mengeluh kalau dia berbuat kesalahan, dan meminta bantuan saya buat sama-sama memperbaiki keadaan. Well, to err is human, and since he/she is my friend, I just can say, ok, lets fix it. Dan setelah beberapa lama gantian saya yang berbuat kesalahan, giliran saya meminta bantuan pada teman, dan jawabannya? That’s your probs dude, you’re the one who made mistake, that’s not my problem. Who the hell are you? — well, forgive = divine 🙂

Skema tadi kadang berjalan berulang-ulang, dan sadly, kadang dilakukan oleh oknnum yang sama. WTF! Tidak kah mereka mau berkaca sebentar? Atau justeru memanfaatkan prinsip yang saya percayai? Entahlah, hanya mereka yang tahu.

Saya gak ikhlas dong nolong teman? Memang,saya tidak ikhlas. Saya menolong teman dengan harapan bakal mendapat sedikit bantuan saat saya kesulitan. Ikhlas itu berat kawan!