Pernah gak tulisan sampeyan dikopi, dan dipublish oleh orang lain? Kalau pernah apa yang sampeyan lakukan? Kebakaran jenggot dan ngamuk-ngamuk? Negur baik-baik, bikin tulisan sindiran atau diemin saja?
Tentunya, gaya tiap orang akan beda-beda. Tapi kalau menurut saya, sudah gak jaman ngamuk-ngamuk soal tulisan yang dikopi. Apalagi tulisan itu sifatnya tutorial yang kalau di share akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tambah kurang relevan untuk ngamuk-ngamuk.
Sampeyan pernah tahu Inul Daratista? Atau mungkin Kangen Band? Mereka terkenal karena bajakan. Pada masanya, mereka malah jauh lebih terkenal dari artis-artis yang selalu meributkan hak cipta. Jadi, anggap saja promosi gratis kalau tulisan sampeyan dikopi 
E tapi, bagaimana kalau yang ngopi itu tidak memberikan atribusi sepantasnya bagi kita, dalam hal ini penulis aslinya? Oh well, silahkan dicoba dikomunikasikan dahulu. Sebagai manusia, khilaf itu biasa 😆 . Kalau masih bandel doakan insap saja lah.
Saya sendiri tidak begitu masalah kalau ada yang mengkopi atau merepost tulisan saya. Walaupun sebenere saya lebih seneng kalau orang lain itu me-remix tulisan saya dengan gaya tersendiri, dan menjadi tulisan yang lebih baik. Istilahnya bangga lah. *emange ada yang mau?*
Oh iya, yang saya bilang di atas belum tentu cocok bagi sampeyan, bahkan bagi saya sendiri, dalam beberapa situasi. Tulisan yang nyeni seperti cerpen atau puisi misalnya. Akan lebih enak kalau diberi atribusi sepantasnya dan tidak diubah-ubah alias di-remix 😆
Terakhir, komunikasikan dengan jelas bagaimana seharusnya memperlakukan tulisan kita, apakah bebas, berlisensi ketat atau yang lain. Kalau saya sendiri? Bisa dilihat di halaman persetujuan 🙂