Kok capek ya mau ngutak-atik lagi, mana kerjaan banyaaak… Masih pula kejar setoran buat bulan depan 
tubi kontinyu mbesok sajalah utak-atik belog nya…
Kok capek ya mau ngutak-atik lagi, mana kerjaan banyaaak… Masih pula kejar setoran buat bulan depan 
tubi kontinyu mbesok sajalah utak-atik belog nya…
Bagi sampeyan penggemar funny quotes seperti saya, mungkin sudah pernah tau site semacam Not Always Right ataupun Over Heard In New York. Nha, kali ini, ada site funny quotes semacam Over Heard In New York, dengan citarasa lokal.
Adalah Nguping Jakarta, site yang memuat dialog absurd orang orang Jakarta. Well, ibukota mungkin lebih kejam dari ibu tiri, tapi yang jelas, setelah baca dialog-dialog ajaib di site itu, saya jadi berpendapat, kalo ibu tiri tak selucu ibukota 
“O… Jadi ini toh, cewek yang akhirnya nginjek kodok juga…”
“Jadi, kapan nyusul? Anak ku wes dua ini…”
“Undangan nya lho le… Sampai kapan kamu mau jadi bocah tua nakal?”
Komen-komen nyentil itu saya dapet waktu kemarin kumpul bareng temen-temen lama saya, yang memang sudah lama banget ndak ketemu. Lha kok ndilalah, dah pada punya anak, istri, minimal punya planning buat kapan nikah. Yang masih luntang-lantung kayak saya, tinggal beberapa gelintir saja. Dan diantara teman yang seharusnya ngumpul itu, tinggal saya dan seorang teman saja yang masih glundang-glundung kayak semangka. Dan sialnya, sontoloyo itu lagi lembur! Jadi ndak bisa dateng.
Saya datang memang bersama temen yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Memang, sangat jarang saya kumpul sama mereka dengan mengajak teman berjenis
wanita. Jadine, saya ndak menyalahkan arek-arek guemblung ini yang surprise dengan ketumbenan saya, dan jadi salah paham. Apalagi cewek guemblung itu juga yang menemani saya dari Jogja sampek Surabaya. Tambah runyem wes!
Saya percaya, terlepas dari olok-olok sadis arek-arek guemblung itu, mereka bermaksud baek, memprihatinkan saya yang sangat jauh dari tanda-tanda berumah tangga. Tapi mbok iyao, biarlah itu menjadi urusan internal saya. Hoo alah. Dikira mudah apa berumah tangga, ngurus anak orang… Bagi saya, itu bukan hal yang mudah. Ngurus diri sendiri saja masih ndak becus! 
Membaca cerita Mas Erwin saya jadi teringat akan ulah teman saya beberapa Romadhon yang lalu.
Beberapa Romadhon yang lalu, mungkin 2 atau 3 tahun lalu. Saya sering sekali menginap di kontrakan teman saya di daerah Nitiprayan. Dan tak jarang pula saya sahur disana. Teman saya itu, seorang yang cukup aktif di masjid dekat kontrakan nya. Meskipun dia bukan warga asli kampung itu. Dia juga rajin membangunkan warga untuk sahur. Maklum, kalau sudah ngumpul, bisa dibilang yang selanjutnya adalah begadang, ngobrol sampe menjelang sahur. Obrolan alternatip kami sering diisi topik relijius –meski hanya setaraf kemampuan kami yang masih slengekan–, sosial ekonomi, sampek obrolan ndak penting, seperti menggoblok goblok kan teman kami seorang pelukis, yang lukisan nya ditawar 25 juta tapi tak dilepas karena menurut dia pembelinya sombong. Nha, diakhir obrolan alternatip kami ini seringkali, teman saya itu mengajak ke masjid, dan membangunkan warga sahur. Baik ya? Meskipun ndak 100 persen tulus, karena seringkali mengharap bertemu ketua takmir masjid yang sering memberi kami rantangan untuk makan sahur 
Suatu ketika, kami sudah di masjid dan tumben bener hari itu sepi benar. Mungkin karena waktu itu pertengahan puasa –terkenal sebagai saat sepi-sepinya, karena energi sudah terkuras untuk puasa, dan belum ada yang itikaf di masjid–. Kami pun menunggu di masjid itu beberapa lama. Tapi, kok ya tetep saja sepi. Padahal sudah hampir jam tiga. Teman saya sang kontraktor –yang ngontrak rumah maksudnya– pun menghidupkan pengeras suara dan membangunkan sahur.
“Sahuur. Sahuur. Sakmenika sampun jam sekawan,” –sahur, sahur sekarang sudah jam empat– serunya di pengeras suara
“Kirang kathah…” –kurang banyak– lanjutnya setelah diselingi beberapa saat jeda.
Tak berapa lama, datanglah Pak Ketua Takmir, dan beberapa bapak-bapak lainnya. Dengan setengah menghardik beliau berkata
“Dasar bocah gemblung! Ngaget ngageti saja!”
“Daripada telat pak, sekarang sudah jam tiga, tapi sepertinya masih sepi” jawab teman saya dengan santainya.
“Iya juga ya?” jawab Pak Takmir diikuti anggukan beberapa bapak lainnya.
Kumpulan bapak-bapak itupun bubar, dan tak berapa lama Pak Ketua Takmir menyuruh anaknya mengantarkan rantangan untuk sahur pada kami. Lumayaan… 
Untung kampung itu kampung nyeni, banyak seniman dan orang yang berjiwa seni tinggal disitu. Jadi, terbiasa dengan hal-hal berbau seni, termasuk kami berempat –waktu itu– yang seni-wen! Coba kalo ndak? Bisa dimassa kami, gara-gara bocah gemblung teman saya itu!
Ada sebuah joke yang menurut saya lucu, tapi nyentil, membuat kita sedikit berpikir. Sarkastik? Mungkin…
—
Suatu ketika, dibukalah bank di sebuah daerah di Madura. Bank itupun mulai mengiklankan kalau mereka bisa memberi pinjaman buat yang mau mengembangkan usahanya.
Iklan itupun sampe ke telinga Cak Amat, seorang peternak sapi. Lalu datanglah Cak Amat ke bank itu.
“Pak, bagaimana caranya saya bisa jam pinjam modal sama sampeyan? Saya botoh 25 Juta buat beli dua pasang pi sapi.” tanya Cak Amat
“Sampeyan cukup bawa surat tanah sampeyan, ditinggal disini buat jaminan. Berapa luas tanah sampeyan?” jawab manajer bank sekaligus meneliti
“Dua rebu meter, deek” jawab Cak Amat
“Oh, bisa Cak, bisa.” lanjut sang manajer
Pengajuan kredit Cak Amat pun diproses, dan akhirnya disetujui, dan uang hasil kreditan tadi pun dibelikan dua pasang sapi oleh Cak Amat. Beberapa tahun kemudian, kredit Cak Amat melunasi kreditnya. Saat itu Cak Amat sudah menjadi peternak sapi yang sukses. Memiliki banyak uang dan puluhan sapi.
Suatu saat, Cak Amat bertemu dengan sang manajer bank.
“Bagaimana usaha sampeyan Cak?” tanya manajer bank
“Alhamdulillah, deek. Berkat pinjaman dari sampeyan, usaha saya juu majuu deek.” jawab Cak Amat
“Hasilnya dititipkan di bank saya saja Cak, nanti Cak Amat mendapat bunga, uang Cak Amat bisa bertambah terus!” sang manajer bank mencoba meyakinkan Cak Amat
“Tanah sampeyan berapa meter deek? Mana rat suratnya?” jawab Cak Amat dengan santainya 
Menyambung tulisan saya sebelumnya …
Hoo alah, tulisan ngalor-ngidul saja pakek bersambung! Guaya! Bukaan, bukaaan. Gini lho, bukane saya sok penting, atau memang tulisan saya sebegitu banyaknya yang harus diutarakan, sehingga harus di split agar tidak membosankan. Tapi, saya nulis pakek hape yang memorinya terbatas, dan keypadnya hanya dua belas, bukan seratus lima. Jadi takut mleduk hapeh saya 
Sebelume, saya minta maaf, pada teman-teman yang non muslim, tulisan saya kali ini, mengulas soal zakat, infak dan shodaqoh, sebuah sistem yang memungkinkan membantu sesama dalam islam. Kok cuma islam thok? Well, saya seorang muslim, jadi sedikit banyak tahu soal ajaran islam. Trus, saya kurang pengetahuan atas sistem yang mungkin serupa di agama lain. What a
shame! Tapi, silahkan diskusi dengan saya, bila sampeyan mengetahuinya. Tambah ngelmu, tambah teman. Ya toh? 
Dalam tulisan saya sebelume, sudah sedikit banyak disinggung soal koperasi, yang saya yakin betul, bisa memecahkan banyak masalah perekonomian, yang mungkin sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini, saya akan coba hubungkan koperasi itu dengan badan/lembaga zakat, infak, shodaqoh, yang bisa diaplikasikan di lingkungan kita dan Insya Allah, memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi lingkungan sekitar kita. Lanjutkan membaca Sekedar Teori…
Sebagian teman-teman, dan mungkin juga pembaca blog ini –kalau ada–, yang mengenal soal duit dan lembaganya –bukan kaya lho ya?– mungkin tahu, betapa susahnya jalan menuju kemakmuran itu, terutama di Indonesia Raya ini.
Bayangkan, untuk mendapatkan bantuan modal dari bank, meskipun mempunyai agunan yang mencukupi, tetep saja harus sudah punya usaha atau gaji tetap. Nah lho? Bagaimana kalo orang yang mau memulai usahanya? Sebentar, sebentar. Bukankah ada pegadaian yang bermoto mengatasi masalah tanpa masalah itu? Justru tambah masalah, terutama bagi yang ekonominya lemah, menurut saya. Lha kok? Saya ilustrasikan begini. Lanjutkan membaca Mau Makmur Aja Kok Repot?
Blog ini, saya analogikan jadi rumah saya di dunia maya.
Di blog ini, mulai banyak tamu, mulai dari yang kesasar, numpang duduk, sampek yang sering ngobrol sama saya, seperti Wisnu, Imam Masrur,, Fuad MigMax Dhen Kaboel, sampai Kang Nur tamu agung saya, yang selalu membuat saya besar kepala. Tamu-tamu inilah yang membuat saya agak malu perihal rumah saya yang pating jlempah ini.
Dulu, saya berpendapat blog ini rumah saya, terserah saya mau ndak karu-karuan, banyak barang postingan sampah, penyambutan sekenanya, dan kawan-kawannya. Lha, tapi, lama-lama, saya kok jadi malu sendiri ya? Sama rumah saya yang acakadut ini. Tamu-tamu saya yang pada dateng, apalagi yang sering berinteraksi sama saya, bukankah wajib saya hormati, saya buat nyaman, dengan keadaan rumah saya ini. Sejelek apapun bentuk rumah saya ini, saya harus membuatnya nyaman.
Nha, berangkat dari analogi ngawur itu, saya berusaha membenahi blog ini. Dengan menulis yang lebih bermutu, sukur-sukur bermanfaat, yang tentunya saya sukai dan sedikit banyak saya tahu. Masa iya, saya nulis yang ndak ada dasarnya, atau bahkan tentang hal yang saya tidak tahu sama sekali? Harga bawang merah di Inggris, tempat jualan bakmi jowo di Amerika, atau cepatnya internetan di Jepang misalnya. Kesana saja belum pernah…
Saya selalu tertarik dengan masalah sosial, ekonomi dan sedikit teknologi. Mungkin, blog saya nantinya nya, akan lebih banyak saya warnai dengan apa yang saya suka, dan yang saya sedikit tahu. Saya selalu tertarik dengan masalah sosial, budaya, ekonomi dan sedikit teknologi. Selain itu, tiga hal itu yang sedikit saya tahu.
Soal katarsis pribadi, saya plurk-kan saja 
Saya sampe ndak habis pikir, kira-kira dalam kasus ini, siapa yang mabuk? Saya ndak tau kejadiannya, tapi, seharusnya bukan begitu cara menjawab keluhan konsumen.
Baca disini lalu silahkan putuskan siapa yang mabuk? Pelanggan, supir atau manajer yang jawab keluhan pelanggan? Kalaupun toh mabuk semua, saya yakin sang manajer yang menjawab keluhan lah yang termabuk dari ketiganya!
hello world, im testing ping.fm with my ym!