Selama ini yang sering diungkap selalu tentang Girls Rulez, kini saatnya kami para Pria mengungkapkan isi hati kami yang paling dalem… Ini adalah cerita dari sisi kami, Kaum Cowok!! Kaum adam!! Aturan kami!!
Untuk para cewek… Terutama Inem 
Selama ini yang sering diungkap selalu tentang Girls Rulez, kini saatnya kami para Pria mengungkapkan isi hati kami yang paling dalem… Ini adalah cerita dari sisi kami, Kaum Cowok!! Kaum adam!! Aturan kami!!
Untuk para cewek… Terutama Inem 
Terrorism is a terrible weapon. But, the oppressed poor have no others
– Jean-Paul Sartre
Kota Mumbai di India, belum lama ini diserang di sepuluh titik secara terencana.
Bicara soal terorisme, memang seperti lingkaran setan, munyer-munyer ndak ada habisnya. Dicari siapa yang salah, repot juga… Sang teroris, jelas salah! Dengan cara terorisme itu, hal pertama yang jelas dapat kita tangkap dengan gamblang adalah, yang jadi korban adalah pihak yang tidak bersalah, bukan pihak yang berkepentingan. Misale, sampeyan orang Amerika, apa otomatis sampeyan ikut bersalah atas terjadinya perang akhir-akhir ini? Ya ndak toh!
Tapi, coba kita pandang dari sisi sang teroris, yang negaranya kacau balau, tembak-menembak, bom-mengebom sudah menjadi makanan sehari-hari. Maut mengintai setiap saat. Dan ndak ada pilihan mau menyuarakan suaranya kemana? Bisapun menyuarakan, paling ndak digubris! Trus bisa apa cubak? Buat mendapatkan perhatian dunia?
Jangan kutuk para teroris, –tentu saja para teroris oppresed poor itu. Bukan teroris yang memang cari perkara. Tapi, kritiklah sistem yang menciptakan mereka!
Apa-apaaan, twelve buttons coding? Koding dengan dua belas tombol? Iya! Koding dengan dua belas tombol. 1 sampek 9, *, 0, dan #, alias pakek hapeh. Meskipun ada beberapa tombol lainnya, tapi istilah itu tampaknya bagus 
Saya melakukan itu, dan bangga dengan hal itu. Seperti tulisan ini, dan beberapa perubahan minor di blog saya ini, saya kerjakan dengan yang namanya hape. Bukan smartphone, apalagi pda-phone atau blackberry yang tombolnya banyak… Hape biasa, SE K800i yang mungkin termasuk hape udzur.
Saya sering melakukan hal itu, karena ndak ada alat yang namanya komputer. Leptop yang ada, lagi dibawa calon bini yang mbeli
. Lum ada rezeki lebih untuk beli lagi. Makane doain tho… Supaya dapet rejeki, dan bisa beli buah apple lagi. dan bisa koding normal lagi.
Untuk sementara, saya bisa bangga, dengan jurus twelve buttons coding saya. Wuh, jurus. Emange silat?
Sering saya dengar, orang tanya, spek komputer saya gini kurang gak ya? Laptop ini dah kenceng belum ya? Pengen beli quadcore, VGA yang GTS, bla bla bla… Padahal belum tentu bisa manfaatken. Phew!
Beli komputer tercanggih, pol mentok buat ngegame dan ngetik. Parah. Parah. Parah! Tapi masih oke lah, komputer itu bekerja optimal kadang-kadang. –sewaktu buat ngegame 
Yang lebih parah lagi, terjadi di dunia perlaptopan. Saya liat, banyak yang beli merk atau tipe tertentu, in the name of gengsi. Banyak anak sekarang beli macbook, cuma nyari status sosial — I hate all of you arrogant mac user –, dengan nyalanya sang logo apel. Atau mungkin merahnya Acer Ferrari, face detection nya Lenovo, atau jugak stylishnya Toshiba Portege dan Sony Vaio bawa gengsi bung! Buat apa cobak? Hotspotan di cafe! Biar gak malu-maluin! Ala mak jaang!
Sementara, salah seorang teman saya, sudah ngedit beberapa film independen, menghasilkan beberapa juta rupiah dari karya-karya diskomvis nya, berbekal Pentium III.
Teknologi akan selalu berkembang, tapi jangan khawatir untuk tidak bisa mengejar teknologi. Komputer yang kita beli jadi ketinggalan jaman, mulai melambat, dan seterusnya. Sekali lagi, masalahnya berada di antara kursi dan keyboard. Jangan risaukan komputer sampeyan yang out of date. Tapi risaukan diri sampeyan yang ndak apdet 
Selamat hari raya sodara-sodara. Berapa sapi, kebo, dan kambing yang sudah terkumpul? Mungkin ada yang banyak, ada yang sedikit…
Tahun ini, seperti beberapa tahun sebelumnya, saya tidak menyembelih hewan kurban. Ada alasan tersendiri bagi saya, untuk jarang menyembelih hewan kurban.
Lho? Kenapa tidak? Apa ndak ada duit? Bukannya dengan menyisihkan paling tidak Rp. 50.000,00 sebulan saja sudah lebih dari cukup buat motong hewan kurban? Memang… Tapi, dalam kondisi saya, bukan itu masalahnya. Tak ceritani ya?
Beberapa tahun yang lalu, saya jalan-jalan ke sebuah pasar di Jogja, pada saat Idul Adha. Disamping disuruh emak buat belanja bumbu-bumbu, ada seorang teman saya yang mempunyai los di pasar itu. Jadi sekalian main. Hihihi!
Saya rasan-rasan sama temen saya itu. Saya bilang, wah kalo musim kurban gini, los daging pasti sepi ya?
Tanpa disangka, temen saya njawab, sepi gundulmu! Rame malahan. Yok maen ke tempete temenku yang jual daging sapi…
Benar saja ternyata, los temene temen saya itu, rame sekali. Bukan rame pembeli, tapi rame para penerima kurban yang mau menjual lagi daging yang mereka terima dari masjid-masjid atau tetangga mereka. Saya jadi agak trenyuh gimanaa gitu. Dengan gaya sok wartawan, saya tanya tukang daging yang mulai saat itu saya klaim juga sebagai temen saya. Mas, dibeli berapa? Lalu dia jawab, ya tergantung potongan dan kebersihan nya mas, bisa setengah harga, kadang bisa lebih.
Hah? Setengah harga kata saya? Sadis sampeyan mas! Setengah menghakimi tukang daging itu… Lha mau bagaimana lagi? Saya sendiri sudah punya stok, lalu daging yang saya terima kebanyakan dipotong asal-asalan oleh panitia. Jadi ndak bisa dijual untuk rendang, apalagi steak. Bisanya njual ya cuma ke tukang soto dan sate.
Sejak saat itulah saya jarang berkurban. Setelah empat tahun berlalu dari kejadian itu, hanya sekali saya kurban. Selebihnya, saya tidak ngoyo, kalo diberi rizki berlebih ya kurban, kalo ndak, saya lebih memilih untuk sedikit membantu biaya sekolah anak-anak yatim atau kurang mampu.
Selamat Hari Raya Idul Adha sodara-sodara
Sampeyan pernah dengar kata-kata pesantren? Pastinya sudah. Definisi kasarnya dari pesantren adalah tempat orang-orang nyantri, belajar ilmu agama.
Nah ini dia, ada sebuah pesantren bernama Senin-Kamis. Pesantren yang beralamat di Notoyudan GT II/1294 RT 85 RW 24, Jogjakarta ini pesantren yang unik. Pesantren ini adalah pesantren untuk waria, dan juga menerima gay dan lesbian. Unik ya?
Tenaang Tenaaang. Jangan dulu berpandangan miring apalagi menghujat. Pesantren macam begini, setahu saya baru yang pertama dan mungkin sampai sekarang satu-satunya di Indonesia! Pesantren ini ber “kurikulum” tak kalah dibanding dengan pesantren umumnya. Ada Sholawatan, zikir, sholat tahajjud dan lain lain.
Hebat ya? Ada yang berminat ikut berperan serta? Menyumbangkan sedikit rupiah, ataupun doa?
Paling tidak, hari ini ada dua event rame-rame hari ini soal dunia internet. masuk tipi pula…
Yang pertama, kartun yang melecehkan kaum Muslim. Yang menurut saya, ini bukan lagi pada rana freedom of speech, tapi sudah mengarah kepada hate speech. That’s rude man! In my opinion, that’s not freedom anymore… Tapi sebuah penyebaran kebencian. Jadi semacam islamophobia malah. Hey, lapo tuak batak, once again, that’s rude, offensing, dan mmm jadi bikin gimana begitu soal dunia perblogeran.
Dan Om R.S. pun pasti tertawa sekencang-kencangnya sambil berkata. Apa saya bilang soal blogger…
Dan yang kedua, jeng jeng jeng… Soal prostitusi di internet. Agak biasa yah? Tapi heboh juga lho di tipi. Dan katanya, pelakunya sudah tertangkap
Hm… Rame ya? Betewe, saya mau buat disclaimer dulu disini, sebelum saya kesangkut-sangkut perkara-perkara rame ini. Disclaimernya Begini:
Dah gitu dulu. Rame ya dunia internet Indonesia hari ini 
Simbah saya di Jawa Timur sedang kurang sehat akhir-akhir ini. Buat semuwa pren-pren saya yang baik dan tidak sombyong
saya mintak doanya ya supaya simbah saya segera sehat kembali dan nyangoni saya lagi…
Semoga doa baik dan amal kebaikan temen-temen dibalas berlipat-lipat oleh Yang Maha Kuasa…
Sampeyan pernah tahu pe cun, pelacur, lonthe, ca bo, ato apa sajalah namanya… Pokoknya dagangan pasar daging. Kalo belum tahu, tanyalah sekitar-sekitar sampeyan. Saya ndak akan menjelaskan, nanti kena pasal UU Pornografi malah repot! Meskipun mungkin cuma porno bagi beberapa orang –tanpa grafi bagaimanapun juga menurut saya.
Adakah orang yang lebih tragis dari yang namanya pelacur itu? Coba bayangkan, mereka harus selalu mengumbar senyum, melayani setiap lelaki yang datang –saya ngomongkan yang wanita, meskipun jaman sekarang ada juga yang lelaki :mrgreen — seperti seorang permaisuri, atau minimal seperti isteri atau pacar teladan. Ndak peduli orang yang datang itu hwarakadah bentuknya seperti apa. Ya kalo ganteng? Kalo ancurr seperti saya, atau bahkan malah lebih ancur dari saya???
Bagaimanapun, mereka selalu membikin para pelanggannya –yang datang tanpa paksaan– hepi hepi dan hepi. Tanpa pernah berusaha untuk mengecewakan, apalagi merugikan orang lain. Bahkan cenderung menyenangkan banyak pihak.
Sekarang cobak. Pelacur itu sudah nyenengin berapa orang-orang disekitarnya? Mulai dari pelangganya –jelaas, mamihnya, yang selalu dapat bagian persenan, supir taksi, dan bersupir-supir lainnya yang juga mendapat persenan, tukang cuci lendir –you know what i mean
, tukang nasi, warung makan, tukang parkir dan lain laine…
Tapi tapi tapi, mereka selalu saja dikejar-kejar, dijadikan kambing hitam, pokoke yang bersalah merusak moral. Tak kurang dari Polisi beneran, Pol PP, Ormas Ekstrimis, sampai preman berkudung yang mangkel karena ndak mendapat bagian persenan dari si pe cun itu.
Kenapa sih, kita selalu ngusik perkara dagangan pasar daging itu, dengan mengatasnamakan moral? Moral yang mana pren? Kenapa justeru yang menyenangkan banyak orang itu dikejer-kejer sampek mampus! Karena mereka salah? Memang mereka salah tapi ndak merugikan, se enggaknya secara materiil. Bukan secara moril, yang saya sendiri masih ndak jedag apa itu moral, apa itu moralitas? Bah!
Kejer saja itu koruptor, pengemplang BLBI, penggusur tanah, dan pemegang kekuasaan semena-mena itu! Mereka selalu merugikan kita, tapi kok kadang malah dipuja-puja, datang digelaran karpet merah, tak jarang kedatangan mereka disambut seremonial yang alamak jaaaang!
Yang pasti, malah tak jarang mereka pake pe cun di satu waktu, dan menyuruh bawahannya menggulung pe cun itu di lain hari. MUNAFIK!
Hormatilah pelacur sodara-sodara! Jangan hormati pejabat korup, orang-orang munafik, pemegang kekuasaan semena-mena, para perampas hak, dan orang-orang munafik itu! Pelacur jauh lebih terhormat…
Hari ini saya punya sedikit waktu luang dan sedikit duit untuk ke warnet –padahal sebenere kalo waktu saya punya banyak, turah-turah–, dengan modal rokok beberapa biji, saya berangkat ke warnet.
Sesampainya di warnet, saya minta ruangan yang semoking, karena saya dah bawa rokok. Dan dapetlah bilik nomer 13 (nomor yang yaaah…). Saya keluarkan rokok, dan lhooo! Mana koreknya? Saya lupa bawa korek. Dengan inisiatip macam detektip, saya ke tempate yang jaga, saya pikir, dia jualan korek juga, karena saya lihat, warnet ini menyediakan rokok. Dan jeng jeng jeng…
“Mas, mintak koreknya satu” kata saya
“Wah, ndak ada mas” kata mas-mas yang jaga
“Ealah, jual rokok ndak jual korek. Njuk nyalakannya piye? Dikonsletkan sama CPU?” kata saya sama mas-mas yang jaga…
Hoo alah. Kadang kita memang melupakan hal-hal yang tampaknya remeh, tapi esensial alias pen think! Kejadian kali ini seakan mengingatkan saya, kalo hal besar pun, kadang tanpa sesuatu hal yang kecil, juga ndak kesampean 