Arsip Kategori: Uncategorized

Terkadang, Google Itu Menyesatkan.

Sampeyan tahu Google? Kalo gak tau, silahkan googling dulu (njuk piye jal?)
Singkatnya, Google adalah situs pencari. Sebuah situs yang memungkinkan kita menemukan artikel, atau media yang kita cari di internet. Umumnya berupa referensi. Tidak termasuk menemukan kambing, motor, atau harta sampeyan yang hilang.

Halah, ribet bener… Wes pokoke saya kali ini pengen ngomongke Google. Dan saya yakin hampir semua yang kenal internet, pastilah kenal Google.

Google mungkin sudah menjadi andalan kita dalam mencari informasi. Dan tanpa sadar, sebagian dari kita sudah terlalu Google minded. Setiap mau menentukan langkah, pasti googling dulu. Mau beli suatu produk, cari tempat makan, menentukan kredibilitas atau background sesuatu atau seseorang, dan laen-laen nya. Dengan cepat dan mudah, Google akan menemukan referensinya untuk kita.

Tapi tahukah sampeyan? Kalo Google terkadang “menyesatkan” dengan memberi referensi yang tidak sesuai kenyataan.

Lanjutkan membaca Terkadang, Google Itu Menyesatkan.

Paid Review: Just IMHO

Dilarang sakit ati ya? Tapi ini cuma opini…

Sampeyan pernah tahu atau dengar yang namanya Paid Review, atau sponsored review? Mungkin pernah? Bagi yang belum, silahken googling googling dulu buat keterangan lebih lengkap.

Paid Review mungkin adalah cara termudah mendapatkan duit bagi blogger. Meskipun bukan terbanyak, tapi tercepat dalam opini saya. Bayangkeun, sekali nulis, bisa dibayar 15 dolar. Dan syaratnya, hanya pertahankan tulisan itu kurang lebih 30 hari. Mantep ndak tuh? Sehari bisa dibilang dapet passive income 50 sen, kalau dirupiahkan yaa, sekitar 5 ribuan lah! Saratnya? Yaa… Namanya paid review, reviewnya mesti ngikut ketentuan-ketentuan nya yang nge-paid dong!

Sampeyan berminat? Saya sih enggak. Karena paid review itu bisa dibilang membeli independensian saya, kejujuran saya (jujur aja masih belum sepenuhnya), dan mengganggu temen-temen saya yang sering menyambangi blog saya ini. Lha kok bisa begitu? Jadi begini…

Lanjutkan membaca Paid Review: Just IMHO

Kenapa Mesti Fanatik?

Saya sedikit terganggu dengan kefanatisan yang berlebihan grup-grup OS akhir-aklhir ini. Tiap group merasa superior atas pilihannya. Why so serious?

Fanatisme menjadi menyebalkan ketika para fanatik itu adalah saling menjelek-jelekkan antara OS satu dengan yang lainnya. Taruhlah begini. Hanya conto lhooo!

Para fanatis Mac OSX, selalu merasa superior atas pilihannya. Mungkin memang benar, OSX mudah dipakek dan jarang crash. Tapi, Perasaan superior yang berlebihan membuat kurang nyaman pengguna lainnya.

Nha, di dunia penguin vs jendela, lebih seru lagi! Banyak fanatis jendela menunggulkan kemampuan jendela buat ngegame. Dan sebaliknya, penggemar penguin sering kali menjelek jelekkan jendela soal rentan virus.

Entah kenapa, akhir-akhir ini makin seru saja perasaan superioritas itu. Yang paling seru, adalah perasaan superioritas para fanatis salah satu distro turunan debian. Levelnya sudah sampai pada tahap membabi buta. Wes babi, buta meneh… Bayangpun, para fanatis itu, selalu mengunggulkan kestabilan pilihan mereka, menjelekkan pilihan atau kemampuan kaum lain. Bahkan sesama pinguin, yang sebenarnya perbaikan atau asal dari distro favorit mereka itu!

Ini mengganggu. Sangat mengganggu kesehatan perkembangan dunia per OS an. Terutama distro yang mereka unggulkan. Misalnya saja saya. Saya jadi kurang simpatik terhadap sang distro itu. Nha, bagi orang lain bisa saja malah ndak seneng gara-gara kelakuan para aktipis ndak genah itu…

Parahnya lagi, para aktipis itu kadang ther laa luu! Fanatik ndak pakek otak! Cobak bayangkan. Ada oknum yang menghina komunitas linux remastering lokal, dibilang bisanya remastering dari distro favorit mereka. Padahal, sebenere distro favorit mereka itu juga cuma perbaikan dari distro lain. Hadeh! Ndak cukup sampek disitu, beberapa oknum justru lebih parah, sampek bawa bawa yahudi segala.

Sadarlah naaak… :mrgreen:

Tentang Timpuk Timpukan Award

Beberapa kali, saya dapet pe-er, award atau apalah namanya, yang intinya semacam blogging berantai. Wedew! Semacam kuisioner, what I do, pengakuan dosa dan kawan kawan, trus dilemparkan pada blogger lain dengan pasang link. Mungkin sebanyak saya kena timpuk itu pula saya tidak menjalankan pe er atau award itu.

Bukane sombong, tapi rasa malas dalam diri saja yang bikin saya ndak pernah menjalankan. Rasa-rasanya kok semacam interogasi saja. Ditanyai dan harus jawap. Kalo saya nya seh gak masalah. Tapi untuk menimpukkan nya lagi ke orang lain itu, saya kok rasa-rasanya kurang sreg ya???

Jadi jangan timpuk saya sodara-sodara! Mungkin sudah belasan kali saya kena timpuk dan gak menjalankannya. Kalo tujuan timpukan itu mau mengenal saya lebih why not simply ask? Kalo mau tukeran link. Ha mbok bilang… No hurt feeling lho ya?

Earth Hour. Penting Ya?

earth-hour Sebegitu penting nya kah earth hour? Kalo sampeyan tanya pada saya, saya jawab. Ya. Penting! Pakek banget!

Tapi pentingnya earth hour itu, jadi  gak penting gara-gara para aktifis dadakan. Dengan hebohnya mereka pasang status di Facebook, Nge Tweet, bahkan sms temen-temen mereka untuk matiin lampu saat earth hour. Dalam pandangan saya, hal ini yang membuat erth hour jadi gak penting. Karena earth hour cuma jadi sebuah euforia, jadi sebuah tren. Bukan membentuk sebuah kesadaran bagaimana pentingnya kita hemat energi, dan juga, kehidupan kita gak terganggu dengan tanpa menggunakan energi yang berlebihan.

Jadi, apa saya mematikan lampu saya dan ikut dalam kehebohan itu? Gak… kehidupan saya biasa saja, saya gak matiin lampu di waktu yang ditentukan. Kehidupan saya berjalan seperti biasanya. Tanpa matiin lampu, tetapi juga tanpa AC, menggunakan lampu hemat energi, mengurangi kantong plastik sebisa mungkin.

So, earth hour? You can call me evil, tapi saya ndak melaksanakannya. Hidup saya berjalan seperti biasanya.

Tukang Pos Jogja Hebat – Hebat!

DSC00855

Beneran lho! Tukang pos di Jogja hebat hebat…

Berbeda dengan pengalaman jelek Mas Fuad yang beberapa kirimannya gak sampe-sampe. Tukang Pos ditempat saya justeru gahar-gahar! Surat disamping disampaikan beberapa waktu yang lalu. Nyampai ke rumah saya, bahkan ketika rumah saya sudah pindah, dan alamat yang tertera adalah alamat lama rumah saya.

Huebat nggak tuh tukang pos? Sampe tanya alamat baru saya ke tetangga rumah lama, dan mengantarkannya ke alamat rumah saya yang baru!

Gahar bener tuh tukang pos… Tapi setelah saya liat suratnya, mungkin inilah yang membuat tukang pos itu gahar. Saya lihat pengirimnya: Departemen Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak. Dan sambil manggut-manggut, saya pun mahfum. Oh, formulir pajak…

Ribetnya Jadi Orang Kedua

Jadi orang kedua memang selalu ribet… Bukan soal cintrong atau apa, tapi ini soal komputer. Curhat atau apa ya ini? Dibilang curhat juga boleh…

Jadi begini, ada seorang kenalan teman saya, yang gak terlalu paham soal komputer luar dalem. Beberapa waktu yang lalu, dia membeli komputer di sebuah toko di Ramai Mall. Saya maklum kalo Ibu itu, tidak terlalu ambil pusing soal spesifikasi, merek apa yang bagus dan sebagainya dan sebagainya. Dan dibelilah itu komputer oleh si ibu itu.

Beberapa saat berlalu, komputer itu rusak, dan ibu itu meminta bantuan teman saya, yang akhirnya meminta bantuan saya. Sebenere saya juga bukan ahlinya servis  komputer ( –wong sama setrum saja takut). Tapi mengingat ibu itu sangat baik pada teman saya dan juga pada saya, maka saya iyakan saja untuk membenarkan beberapa kali servis ringan buat ibu itu.

Sampai belum lama ini, komputer itu rusak lagi, dan agak serius. Saya bingung untuk memberitahu ibu itu, kalau kerusakan kali ini mungkin memakan biaya agak banyak. Padahal, sebenarnya mungkin belum waktunya mengeluarkan biaya (lagi) untuk komputer itu.

Singkatnya, ibu itu beli komputer di toko yang bisa dibilang asal laku, kurang memperdulikan konsumennya. Asalkan selama masa garansi masih idup… Dan akhirnya, tukang servis keduanya yang harus bingung muter-muter. Saya mesti gimana memberitahukannya pada ibu itu, kalau mungkin kali ini habis banyak untuk komputernya, padahal belum sepantasnya dia keluar uang lagi. Saya bilang apa adanya, nanti kedengaran nonsense. Repoot…