Arsip Kategori: My Life

Cerita Dari Pojok Jakarta

Sementara saya menulis ini, ada garis mati nulis manual buat anak-anak marketing kumpeni yang sungguh unyu bin kemampleng itu. Dan, meja sebelah muter musik 8 bit khas Mario Bros.

Yah kira-kira begitulah keadaan saya, sebagai pekerja rata-rata Jakarta. Bedanya, saya gak berada di gedung tinggi, tapi di salah satu pojok Kota Jakarta. Sunter namanya. Jakarta yang sekali lagi ndak ada Jakarta Jakartane blass.

Kok betah sih di Jakarta? Kalau aku sih sudah amit-amit ogah hidup di Jakarta. Macet, apa-apa mahal, kadang banjir, orang-orangnya gak asik. — Tanya seorang teman saya.

Mau maunya sih jadi pekerja? kalau saya sih ogah jadi pekerja, cuma nambah kaya pemilik perusahaan, hari Senin selalu hectic, waktunya terikat, gak bebas, yada yada yada — Tanya seorang teman saya yang lain.

Entahlah, pertanyaan pertanyaan itu kadang saya pikir semacam ofensif. Secara gak langsung seperti pada bilang, your life sucks, mendingan hidup saya. Kira kira begitulah esensi yang saya tangkap dari batin tersensi saya.

Dan sayapun cuma bisa bilang, kepada orang-orang yang bahkan sebagian gak memberi saya makan itu…

Bot abote wong golek pangan mas…

Jadi, Bagaimana Hidup?

Harusnya, pengen bilang How’s life. Tapi keliatane kok keminggris ya? Jadilah diIndonesiakan. Mau bilang, jadi bagaimana kehidupan kok rasanya terlalu serius. Jadi, halah munyer. Begitulah akhirnya saya menjuduli posting ini.

Si hidup ini baik baik saja, ada sedikit badai dalam kehidupan, biasa lah. Terombang ambing sana-sini, ndak masyalah. Kalau seorang temen lama saya bilang, kalau nggak terombang ambing, hidup rasanya kurang nyeni.

Delapan bulan di ibukota Indonesia (lagi). Hati saya terbagi. Sebagian fragmen hati saya berada di Jogja bersama keluarga dan teman-teman baik saya. Dan sebagian fragmen hati saya berada di Jakarta, ibukota Indonesia bersama pekerjaan, angan-angan dan orang-orang baik yang banyak membantu saya.

Jadi, bagaimana hidup? Baik baik saja. Bagaimana hati dan pikiran? Itu yang saya juga tidak tahu…

Balada Lemper, Pastel dan Telor Rebus

Kalau ditanya, makanan apa yang menurut saya sangat istimewa? Bisa dipastikan jawaban saya adalah lemper,  kue pastel dan telor rebus. Gak ada yang istimewa dari makanan ini bagi kebanyakan orang. Tapi bagi saya, ketiga makanan ini istimewa sekali.

Makanan yang biasa dijadikan gandulan (semacam buah tangan orang hajatan, diberikan pada tamu hajatan dengan tujuan untuk dinikmati di rumah) orang hajatan ini mempunyai cerita tersendiri di bagian kecil kehidupan saya, sehingga membuat makanan ini begitu istimewa dan menjadikannya salah satu makanan terenak versi saya.

Ada suatu waktu, dimana keluarga saya begitu pas pasan nya, hingga kami bisa makan layak 3x sehari pun terasa sangat mewah, gak peduli dengan lauk apa. Pokoknya bisa ganjel perut. Di waktu-waktu inilah, saya jarang bisa ketemu makanan istimewa, yang bisa dibilang enak, tidak seperti makanan saya biasanya. Sekalinya ketemu, bisa dipastikan itu adalah hasil dari kendurian atau hajatan, yang sering kali berupa satu kotak makanan berisi lemper, pastel, dan telur rebus.

Kini, keadaan saya mungkin sudah jauh lebih baik daripada masa-masa itu. Ketika saya sudah mulai bisa tersenyum simpul karena berhasil melewati masa-masa itu, tetap saja lemper, pastel dan telur rebus terasa begitu istimewa di lidah saya.

Istimewa memang tak selalu harus luar biasa.

Sesimpel Alhamdulillah

Beberapa waktu yang lalu, saya naik taksi. Dan seperti biasanya, sedikit basa basi sama supir taksinya, sudah berapa lama, hari ini sudah ngangkut berapa, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketika sampe di tempat tujuan, ongkos saya bayar, dan ada lebihan beberapa ribu rupiah, dan saya bilang, sudahlah Pak, bawa saja buat ngopi-ngopi. Di luar dugaan saya, supir taksi itu berujar

Alhamdulillah…

Dengan sangat tulusnya. Salah satu ucapan tertulus yang pernah saya dengar.

Hal itu seperti memberikan saya sebuah oase di tengah padang gersang bin gila bernama Jakarta. Yang orang orang bilang, serba keras, serba gak nyaman, dan serba penuh kerakusan…

Sekaligus, ucapan itu bagaikan menampar saya langsung, to the point kalau orang-orang kelas menengah yang #keminggris bilang. Ucapan itu membuat saya bertanya-tanya. Sudahkah saya cukup bersyukur atas apa yang saya dapat? Atau malah saya malah menjadi makin rakus dan ingin mendapatkan lebih lebih dan lebih lagi.

Sesimpel ucapan alhamdulillah, bisa membuat hati saya tenang dan adem, sekaligus menampar saya langsung…

Enam Bulan

Enam bulan itu, waktu yang lumayan lama. Dengan menterengnya kita bisa juga menyebut si enam bulan ini dengan setengah tahun. Dan inilah yang terjadi pada saya, kira kira enam bulan lalu…

Enam bulan lalu, saya balik lagi ke ibu kota, dengan keadaan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Enam bulan lalu, saya bikin seorang teman lama menganga karena keputusan saya.
Enam bulan lalu, saya mereboot hidup saya, menjadi seorang pekerja rata rata.

Selamat setengah tahun jadi kelas pekerja!

Sombong Tanggung

Beberapa waktu yang lalu, saya ditawari pekerjaan di sebuah tempat yang mayan keren sama temen saya. Tapi kali ini, harus pakek surat menyurat yang saya gak pernah bisa. Hihihi.

Karena teman saya yang nawari ini salah satu teman baik saya, jadilah saya bikin itu paperworks. Selain buat nglegani, karena teman saya itu sudah nawarin pekerjaan yang bisa dibilang keren di tempat yang lumayan keren juga. Toh juga iseng iseng berhadiah juga. Sapa tau dapat. Meskipun saya gak banyak berharap juga. karena istilahnya, yang tahu saya dan apa yang saya kerjakan cuma si teman saya itu.

Jadilah resume acakadut saya. Atas wangsit dari teman saya yang nawarin itu, saya kirimkan email ke dua orang petinggi kumpeni tersebut, dengan disertai bcc ke beberapa teman baik saya yang bisa dibilang kaum propesional muda lah.

Dan… Salah satu temen saya yang sudah cukup sukses lewat skype bilang: Bah, tanggung kali resume mu ini. Humble ala Indonesia enggak, confident dan sombong ala bule juga enggak. Lain kali kalau bikin resume yang concise macam ini, disombongin dikit lah. I know you did better than what you told.

Dan errr… Kalau dipikir pikir dia ada benarnya juga sih. Tapi gimana ya? Saya gak sampe hati buat nyombong, yet again kalau terlalu humble, nanti belakang belakangnya susah kalau mau nego sesuatu ke kumpeni.

Jadi, apa kabar resume tanggung itu? Entahlah, gak terlalu saya pikirkan juga. Dan saya masih cukup bahagia juga di kerjaan sekarang, karena saya tahu, saya bekerja bareng orang-orang baik 😀

Trus? Niat gak sih itu sama tawarannya? Eng… Lumayan sih, apalagi kalau tawarannya cucok. Let’s say, ada asuransi dan eng… Dua ribu atau tiga ribu sebulan. #ngayalbabu

Warna Warni

Saya adalah orang orang yang termasuk beruntung. Saya punya cukup banyak teman yang berwarna warni, datang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang pol mentok bawah sampai yang bisa dibilang berada. Saya kenal orang yang tinggal di kontrakan petak dengan rumah kayu, dan entah kenapa pula bisa kenal sama orang yang mampu beli piaraan seharga mobil bekas, earn more than I can imagine to spend.

Teman teman yang berwarna warni itu, bener-bener memberikan banyak insight pada kehidupan saya. Dan saya bisa bilang, itu adalah salah satu hal yang paling berharga yang diberikan Tuhan sama saya. Saya bisa melihat ke bawah untuk bersyukur, dan kadang melihat ke atas untuk menyemangati hidup.

Once upon a time, I am somebody, sampai Tuhan menjadikan saya nobody. Pelan-pelan mulai merangkak lagi, dan jatuh lagi. Sekarang? Sedang mencoba untuk merangkak lagi. Dan teman-teman anugerah Tuhanku itu benar-benar terasa sebagai sesuatu yang sangat berharga. Teman-teman saya yang berwarna warni ini pula lah yang membuat saya cukup kuat untuk bertahan dari cobaan yang sepertinya agak terlalu berat bagi saya.

Buat teman-temanku yang (mungkin) membaca ini. Makasih ya? Gak kebayang apa jadinya saya tanpa kalian. :’)

Right Or Wrong, This Is My Decision

Sepertinya sombyong dan keras kepala banget ya? Ndak papa lah, memang adanya begitu. Dan keputusan ini membawa resiko juga. #ibunegara yang kesel setengah mati, satu dua teman yang bilang guoblok. Dan hati kecil saya yang kadang berkhianat 😆

Oke, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah jalan di persimpangan ruwet saya. Saya memutuskan untuk sementara tetap stay di kumpeni lama dulu, dengan segala resikonya. Memang, beberapa rekues saya belum mendapat tanggapan dari #pabos. Entah itu ditolak, diterima, atau dinego. Dan jujur, itu agak sedikit ngeselin. Tapi ada hal yang membuat saya merasa harus tetap berada disini untuk sementara waktu.

Yang pertama. Selama saya di hire, saya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat langsung, tampak nyata, dan bukan sekedar semacam apa ya namanya? Fundamental, atau pondasi mungkin. Dan somewhat unethical kan kalau saya pergi sebelum menyelesaikan apa yang saya kerjakan.

Yang kedua, entah kenapa saya merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerja disini. Di Sunter yang nun jauh ini, yang kalau orang bilang ndak ada Jakarta Jakartanya blas. Dengan ejekan #kepalasuku soal kawin, Sony yang selalu ngompori ikutan dia ngegame di facebook, dan ngolok-olok Yusin dengan penjaga warteg deket kumpeni itu.

DSC00083

Last but not least. Selama saya kerja boleh sendalan dan kaosan, I’ll be OK kok. #wahihi

Simpang Ruwet

simpangOkek, sudah beberapa bulan cari penghidupan di kota yang bernama Jakarta. Dan menurut kontrak saya, bulan ini sudah selesai tuh kontrak. Selanjutnya?

Entahlah, ada beberapa pilihan yang bisa saya ambil. Dan beberapa pilihan ini tak semudah kelihatannya untuk saya ambil. Semua mempunyai konsekuensinya masing-masing. Dan saya harus siap menanggung dampak dari pilihan saya.

Mungkin ini masa-masa dimana saya bener-bener galau. Bukan cuma branding (halah). Pilihan-pilihan sulit mulai berdatangan. Apa saya akan tetap di kumpeni yang sekarang, mulai menimbang beberapa tawaran, atau balik kampung tanam jagung 😆

Pilihan pertama, tetap di kumpeni sekarang. Kumpeni yang super lucu dengan teman-teman yang lucu pula. Dan selalu saja ada bahan buat bikin tertawa. Mulai dari #pabos owner yang super lucu, yang barusan beli mobil seharga milyaran tapi tetep down to earth. —  Saking down to earth nya sampe sering ngutip rokok saya #wahihi. OB yang super lucu dan gak pandang bulu – bahkan #kepalasuku pernah dimarahin loh sama OB ini, sampe pada sotoy-sotoynya #pabos MO yang sekilas mirip Pak Taka sinetron OB itu. Ah, kumpeni ini terlalu lucu untuk ditinggalkan…

Selanjutnya, ada pilihan menimbang tawaran dari beberapa teman. Memang, pilihan ini menjanjikan pendapatan yang lebih baik. Ada yang menawarkan bahkan sampe dobel dari yang saya dapat sekarang. Meskipun money isn’t everything, but it’s a thing rite? *mrenges*

Dan pilihan terakhir, saya balik ke Jogja, balik lagi dengan teman-teman yang super menyenangkan. Tapi, itu berarti ngere lagi. Meskipun sangat-sangat menyenangkan, tapi kalau saya pilih ini, saya jadi pengangguran entah sampai kapan. Karena di kota yang saya cintai ini, belum ada juga sesuatu yang tampak memberikan saya pendapatan. Kembang-kempis kawan!

Jadi mesti bijimana ini?

New Kids On The Blog

Hello there 😀

This should be my yada yada yada for my new blog. But I think I’m not good at it. So, I’ll try my best and here we go.

Why dua januari? This blog even not created at that date? Well, actually that’s my birthday. And I don’t know, dua januari sounds poetic in my ear, and think I’m lovin it. So here’s my new what so-called “bloglife”

Rebrand? Don’t think so, but whatever I said some of you may not believe me. So you can call this rebrand. Whatever… But here’s my reason why I changed my “brand”. My #masalalu said:

kamu sudah bukan bocah, dan terlalu serius untuk dibilang miring.

That kind of make me… Oh, OK… So, I decided to move on.

Well, hello dua januari 😀

p.s. : for all pedantic and spelling bastards out there, yeah I know my english kinda amburadul! Terus kenapa ditulis pake basa enggres? Sebelume sudah ditulis pake bahasa Indonesia sih, cuma kok keliatane terlalu mendayu-dayu dan menye-menye. Jadilah pake enggres amburadul.