Sementara saya menulis ini, ada garis mati nulis manual buat anak-anak marketing kumpeni yang sungguh unyu bin kemampleng itu. Dan, meja sebelah muter musik 8 bit khas Mario Bros.
Yah kira-kira begitulah keadaan saya, sebagai pekerja rata-rata Jakarta. Bedanya, saya gak berada di gedung tinggi, tapi di salah satu pojok Kota Jakarta. Sunter namanya. Jakarta yang sekali lagi ndak ada Jakarta Jakartane blass.
Kok betah sih di Jakarta? Kalau aku sih sudah amit-amit ogah hidup di Jakarta. Macet, apa-apa mahal, kadang banjir, orang-orangnya gak asik. — Tanya seorang teman saya.
Mau maunya sih jadi pekerja? kalau saya sih ogah jadi pekerja, cuma nambah kaya pemilik perusahaan, hari Senin selalu hectic, waktunya terikat, gak bebas, yada yada yada — Tanya seorang teman saya yang lain.
Entahlah, pertanyaan pertanyaan itu kadang saya pikir semacam ofensif. Secara gak langsung seperti pada bilang, your life sucks, mendingan hidup saya. Kira kira begitulah esensi yang saya tangkap dari batin tersensi saya.
Dan sayapun cuma bisa bilang, kepada orang-orang yang bahkan sebagian gak memberi saya makan itu…
Bot abote wong golek pangan mas…