Semua tulisan dari Hamid

Nelayan Yang Bahagia

Adalah julukan yang diberikan kepada saya oleh Almarhum Tasiman, salah seorang teman baik saya.

Sodara beliau adalah teman lama saya, yang dengan sombongnya mendahului saya menghadap Yang Maha Kuasa. Cukup lama kami berteman, saya cukup banyak tahu tentang dia, pun dia hampir tak melewatkan banyak hal tentang saya. Banyak hal kami lalui bareng. Ya ini, ya itu. Macam-macam.

Bang Tas, begitu saya biasa memanggilnya. Hapal betul dengan saya, tahu saya dari berbagai macam sisi dan keadaan. Mulai dari saya masih menjadi kelas menengah ngehe, kere, berusaha kembali jadi kelas menengah lagi, sampai jadi kere lagi. Dia ada ketika saya punya pacar, mulai dari yang rhemook sampai cukup wangun diajak kondangan. Maupun ketika saya berkali kali piyambakan.

Kata Bang Tas, hidup saya ndak jelas. Kadang tenang setenang tenangnya, kadang terombang ambing menakutkan. Kadang membawa hasil yang membanggakan, tapi tak jarang juga mbladhus ndak karuan. Seperti nelayan.

Keruwetan dan keabsurdan hidup saya toh kata dia tak mengurangi kadar kebahagiaan saya. Kata dia lagi, hal itu yang membuat dia senang berteman dengan saya.

Nelayan itu sekarang lebih sering murung

Bang Tas, sepertinya titel itu sudah tidak pantas untukku. Si nelayan ini lebih sering murung, sangat lain dengan apa yang dulu kamu tahu. Meski aku tetap menjadi nelayan, aku sepertinya tidak bisa tetap bahagia seperti kala itu.

Tapi Bang, kowe toh tidak bisa mencabut gelar itu dariku. Karena kowe sudah mudik mendahului aku. Sing aku bisa lakukan supaya gak mengecewakanmu ya cuma berusaha kembali seperti kala itu. Menjadi nelayan yang bahagia. Apapun keadaanya. Punya duit atau ndak, punya gandengan atau ndak. :mrgreen:

Ah iya, apa kabar Surga? Sudahkah kowe melukis suasana lebaran disana? Simpankan buatku, dan berikan padaku waktu aku nanti menyusulmu.

Hamid, yang sedang mengenang Tasiman di sebuah penghujung Ramadan.

Jaga Diri Baik-Baik

Seorang teman pernah bilang:

Jaga dirimu baik-baik, bisa jadi kamu adalah alasan bagi seseorang.

Memang, teman saya itu terkenal dengan jarang seriusnya, tapi ketika sodara beliau ngomong, bisa dipastikan ada alasan dan dasarnya. Hal itulah yang membuat saya jadi berpikir. Lama bener saya pikirkan perkataan teman saya itu. Alasan? Alasan apa? Si teman sukses membuat saya manggut-manggut untuk beberapa lama sebelum datang momen ah iya itu, yang kalau di kartun atau komik muncul gambar lampu bohlam yang menyala.

Setiap kita, meskipun gak selalu kita sadari bisa jadi adalah alasan seseorang untuk melakukan sesuatu. Apapun itu. Kita yang termasuk cerdas, mungkin adalah alasan orang lain untuk tetap belajar, kita yang termasuk sukses, mungkin adalah alasan orang lain untuk terus berusaha meraih mimpi. Dan mbak-mbak yang cantik dan suweksi, bisa jadi sampeyan-sampeyan adalah alasan seseorang untuk melakukan onani :mrgreen:

Jadi, jagalah diri baik baik. Jangan pernah sembrono pada diri sendiri. Bawa diri baik-baik. Jika tidak, bisa jadi kita akan mengecewakan seseorang, karena sekacau apapun kita bisa jadi adalah alasan buat orang lain. Baik itu memotivasi, atau cuma bahan onani.

Tentang Batas

image

Batas. Semua orang mungkin punya itu. Terutama dalam hal kesabaran. Termasuk juga saya.

Untuk saya sendiri, kadang batas itu menjadi kelewatan mengada-ada. Banyak teman saya tak jarang menggoblok-goblokkan saya karena kenekatan dan kekeraskepalaan saya.

Mereka tidak salah. Cuma sayanya saja yang memang bener-bener kelewatan dari batas apa yang orang bilang masuk akal.

Tapi untuk sesuatu yang saya yakini yang terbaik, pantas kan saya melampaui batas, meski kadang hal bodoh itu berujung menyakiti diri sendiri?

Hamid, yang sedang gamang mengukur kembali batasnya. ndak pake anang.

Kotak Ajaib Bernama Televisi

Sudah sebulan lebih, TV di rumah saya rusak, dan ngonggrok begitu saja. Dunia serasa jadi milik saya, tentram tanpa ada yang mendikte, tanpa ada kumpulan berita buruk yang justru jadi berita bagus buat stasiun TV nya karena mendongkrak rating. Tidak ada yang mengumbar kebencian dengan melotot-melotot wagu di apa yang orang-orang bilang sinetron.

Tapi, dalam ketenangan saya itu, terdapat bapak yang ndak update tentang dunia luar juga emak yang ketinggalan bahasan sinetron dengan teman dan tetangga. Hal yang sebenarnya saya anggap bagus ternyata membawa efek samping yang kurang menyenangkan bagi orang lain.

Akhirnya sore tadi saya putuskan untuk memanggil seorang tetangga yang cukup mahsyur sebagai ahli elektronik tingkat kelurahan. Lima puluh ribu untuk mengganti onderdil dan timah solder melayang. Kotak ajaib bernama televisi itu hidup lagi. Bapak saya bisa update lagi soal berita-berita terkini, dan emak saya bisa nonton hiburan ndak jelas yang disajikan hampir semua stasiun TV.

Dan ketentraman Hamid terusik lagi 😆

BII: Bank Inang-Inang

Kembali ke kota yang pernah dianggap fasis sempurna di salah satu tulisan berbahasa asing ini memberikan kesan tersendiri buat saya. Campur aduk macem-macem. Ada seneng, ada ruwet, ada semua lah. Di kota bernama Jakarta ini saya memang menyimpan beberapa cerita. Ah iya, saya hanya pengunjung musiman saja kali ini. Belum ada alasan atau pekerjaan lagi untuk membuat saya menetap di kota bundet yang serba ada ini.

Dari bandara kota ajaib ini — yang sebenarnya berada di kota sebelahnya, saya perlu ke sebuah daerah yang namanya mirip daerah asal tukang burjo. Saya menumpang taksi bertarif bawah. Dan duduklah saya di sebelah supir. Entah kenapa saya lebih senang duduk di depan. Hal yang tampaknya kurang lazim hingga kadang membuat beberapa supir taksi bingung.

Apakabar pak?

Dan beberapa percakapan basa-basi antara saya dan supir taksi yang bolehlah kita sebut saja Jono.

Jalanan agak biasa kali ini, tidak macet sadis. 30 sampai 45 menit perjalanan saja untuk menuju ke arah tujuan. Ndak terlalu lama. Tapi kalau diem thok ya ngakik juga. Jadilah Pak Jono dari Semarang ini saya ajak ngobrol ngalor ngidul.

Saya: Rame pak?
Jono: Yah begitulah mas, namanya bulan puasa. Kalau siang orang pada males keluar, kalau malam banyak tempat hiburan yang harus tutup.
Saya: Hari ini setoran sudah nutup?
Jono: Syukur lah mas, tinggal nyari lebihan buat dibawa pulang.
Saya: Ndak perlu ke BII dong ya?
Jono: (tertawa) kok mas e tahu BII?

Beruntung, pada suatu waktu saya pernah hampir tiap hari naik taksi. Dan hampir tiap hari juga saya ngajak ngobrol sang tukang taksi, karena tak jarang waktu bertaksi saya lumayan lama. Baik itu karena jarak, atau macet. Jadi sedikit banyak pengetahuan saya soal pertaksian ini jadi lumayan mumpuni –halah.

BII bukanlah bank nasional yang akhirnya dibeli bank luar negeri. BII adalah jargon populer diantara supir taksi, utamanya supir taksi setoran. BII kependekan dari Bank Inang-Inang, alias “bank” yang dijalankan personal, oleh orang per orang. Daerah operasi mereka tidaklah besar, paling satu pangkalan dan sekitarnya. Karena daerah operasi yang tidak besar, biasanya mereka hapal dan kenal dekat ke siapa-siapa saja yang ngutang, hingga tidak perlu menggadaikan barang ke mereka untuk mendapatkan pinjaman. Cukup dengan modal saling kenal dan percaya. Jasa yang harus dibayarkan ke BII ini memang sedikit lebih tinggi dari bank beneran. Tetapi fleksibilitas pembayaran dan kemudahan cairnya tak tertandingi! Lalu, kenapa akhirnya disebut BII? Ya karena yang menjalankan praktek ini hampir semuanya inang-inang.

Obrolan saya dengan Pak Jono melebar seru, banyak ngobrol ya ini ya itu, dan tak jarang disisipi sursol dari Pak Jono. Tak terasa sudah hampir sampai tempat tujuan saya.

Saya: Berhenti disana ya pak?
Jono: Siap! Mau ngapel ya mas?
Saya: Sembarangan! Darimana sampeyan bisa dapat kesimpulan semena-mena begitu?
Jono: Pas barusan masuk tadi saya denger obrolan masnya di telepon (sambil nyengir lebar)
Saya: Tak amini wae lah pak. Biar cepet.

Dan sayapun sampai. Kata-kata Pak Jono tadi masih terngiang. Dan tak tahu harus saya apakan. Mau diamini atau dibagemanakan…

Hamid, yang dunianya sedang terbolak-balik.

Berang-berang selalu sibuk. Ia terus menerus membangun, bahkan setelah bendungan dan tempat tinggal mereka sendiri sudah rampung.

Sayangnya, kita tak pernah tahu, apakah sebenarnya si berang-berang itu peduli pada yang mereka sayangi, mengalihkan pikiran dari yang mereka benci, atau hanya terobsesi –dengan bendungan…

Hae berang-berang (:

Lagi Lagi Soal Periuk Nasi

Jangan mengganggu orang yang sedang cari makan kalau kamu tidak ngasih makan ke mereka

Mungkin dari kalimat itulah tulisan ini akhirnya terbit. Sebuah kalimat pembenaran atas apa yang mulai jamak dilakukan orang-orang di sekitar saya. Yang jujur saja, saya kurang suka.

Setelah kalimat itu, seringkali terjadi kesimpulan, kalau gak suka tinggalkan saja. Dan itu sungguh, jauh lebih menyebalkan daripada kalimat pembenaran itu. Satu hal yang sama sekali tidak konstruktif. Malah bisa jadi merusak. Apa saja, ya suasana, ya pertemanan, ya tujuan bertukar pikiran. Pikiran dan pendapat saya tidak bisa tersampaikan dengan semestinya, pun pemahaman yang menjadi keliru atas apa yang sebetulnya akan saya sampaikan.

Lanjutkan membaca Lagi Lagi Soal Periuk Nasi

Hari ini, 16 tahun yang lalu, mungkin adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidupku.

Hae R. Y. How’s heaven? (:

Bunga Rumput

image

Kalau ditanya, bunga apa yang saya paling suka, mungkin akan saya jawab bunga rumput.

Bunga rumput? Apa bagusnya? Banyak! Setidaknya kata saya. Bunga rumput itu unik. Tak semewah mawar, juga tak seharum melati. Si bunga ini tumbuh semau-maunya sendiri, kapan dan dimana kita tak pernah bisa tahu. Si bunga ini ndak isinan, bisa tumbuh bahkan di tempat-tempat yang ndak banget. Di lapangan, pinggir jalan, pekarangan, mana saja. Bahkan di tempat bunga lain tidak akan bisa bertahan.

Kebebasan si bunga rumput tidak cuma sampai disitu. Kita tidak pernah bisa mengaturnya untuk tumbuh dimana, juga belum pernah saya tau orang yang berhasil membudidayakannya. Bener-bener suka-suka dia sendiri. Tidak bisa diatur seperti apa yang kita mau.

Aneh ya soal apa yang saya suka ini? Tapi bagaimana ya? Yawes begitulah adane. Saya suka apapun itu, yang cantik dengan caranya sendiri.