Rasa-rasa kok judul puisinya Romo Sindhu ini cocok buat tak ungkapin ke seseorang. Ya, Cintamu Sepahit Topi Miring…
Buat yang gak tau apa itu topi miring, ya sudahlah, jangan sampai tahu. Ndak baik… Ehehehehe. Ndak dhing, tak jelaskan dikit saja:
Tanyalah peminum kelas gardu ronda. Pasti mereka lebih mengenal Tomi ketimbang Kahlua, Absolut Vodka, Johnie Walker, atau Chivas Regal.
Tomi kemasan seperempat liter, dalam botol wiski ukuran kantong ala Kapten Haddock, harganya lebih murah daripada sebungkus Djie Sam Soe. Cuma seperdua puluh harga anggur termurah impor di pasar swalayan.
Di tangan konsumen setianya, Tomi ini memacu mixology atau seni bartending yang ajaib. Tomi dicampur minuman energi macam Kratingdaeng atau Extra Joss, ataupun disatukan dengan minuman bersoda, disajikan dengan gelas seadanya, tanpa garnish, tanpa ada slice jeruk lemon atau olesan bubuk garam di bibir gelas… Hasilnya? Sama dengan minuman ber merek yang minimal menghabiskan ongkos senilai gaji sebulan peminum setia Topi Miring: riang, kadang lupa diri, sesekali terjerembab ke got atau sawah.
Yang jelas, rasa murni dari sang Topi Miring itu sangat pahit. Jangan bayangkan pahitnya seperti minuman aseli dari luar sana. Tapi yah… Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya pahit!
Buat kamu, ya, kamu… Kamu yang udah memutar balikkan hati dan otakku… Cintamu Sepahit Topi Miring…