Semua tulisan dari Hamid

Kebencian Not Included!

Saya adalah pendukung ide freedom of speech alias kebebasan berbicara atawa berpendapat. Seperti pada kasus pemoderasian komentar di blog mantan sekolah saya, saya jadi orang yang paling sewot menentang ide itu.

Tapi ya, saya bukan penganut faham sak wudele dhewe, semau gue. Dalam perspektif saya, hak memperoleh kebebasan itu, dibatasi pula oleh hak orang lain untuk mendapat dan mempertahankan hak nya. Nha, kalo tidak, maka akan terjadi chaos, dan apa yang disebut homo homini lupus kemungkinan besar bakal kesampaian.

Dalam konteks freedom of speech, kebebasan itu mesti dibarengi pula dengan tanggung jawab, juga wisdom. Tidak asbun, apalagi sampe mengedarkan hoax, ataupun malah mengemukakan hate speech dengan dalih kebebasan berbicara.

Fokus pada hate speech, yang kebanyakan dilakukan oleh para ekstrimis-ekstrimis yang super fanatik itu, baik secara sadar, atau tidak sadar (bukan berarti mereka mabuk, tapi karena terbutakan oleh fanatisme mereka). Saya rasa sampean-sampean banyak yang sepaham sama saya, kalau “kebebasan” itu membuat rasa tidak nyaman.

Contoh paling konkret, akhir-akhir ini banyak kita temukan blog atau komentar blog yang saling menyerang perkara agama. Mencari-cari kelemahan agama lain, saling menjelekkan, menebar kebencian terhadap agama yang diserang. Hadoh hadoh hadoh! Sangat nggriseni, membuat tidak nyaman!

Hate speech everybody? I don’t think so… Hate not included :mrgreen:

Moderation? It sucks!

Blog di salah satu mantan sekolah saya, mempunyai policy yang benar-benar sucks menurut saya.

Tim pengelola blog itu, memoderasi setiap komen yang masuk ke blog itu. Ya, bukan cuma komen pertama saja, tapi setiap komen termasuk bagi yang langganan komen disana.

Menurut sampean-sampean bagaimana itu? It is good, normal, ato sucks! Well, sudah pada tahu opini saya toh?

Opini, tanpa alasan yang jelas, sudah tentu bisa dianggep ngaco, asal bunyi, bahkan cari sensasi menurut beberapa orang. Jadi biar afdhol, saya kemukakan alasan dari opini saya.

Pemoderasian komentar, di satu pihak, mencegah vandalisme komentar dalam satu blog, juga meminimalisir komentar spam –nah, ini bagi yang kurang percaya akismet, spamkarma dan temen-temennya. Tapi, tapi, tapi. Hal itu mencegah diskusi sehat yang terjadi dalam satu topik blog itu karena delay yang terjadi dalam pemunculan komentar. Juga, meskipun akhirnya sebagian besar di approve juga, tapi kesannya, pengelola nya cuma mau denger yang baik-baik saja :mrgreen:

Comments are welcome, tapi tolong, jangan ad hominem

Balada Bubur Beras

Pagi ini, sahur saya dibumbui dengan dongkol. Lha kok? Jadi begini ceritanya.

Ibu saya sedang tidak enak badan, maka tidak bisa menyiapkan makan sahur. Nha, karena semalem saya sibuk di acara khataman masjid deket rumah saya, jadi kelupaan juga buat beli makanan sahur.

Seporsi nasi uduk khataman yang saya bawa semalem, saya persilahkan untuk dimakan Bapake saya, dan saya memutuskan buat beli bubur saja di dekat rumah.

Jam 3.15 saya dah sampe di tukang bubur itu. Antri 2 orang. Wah, ndak banyak antrinya kata saya dalam hati.

Datanglah mas-mas dan mbak-mbak yang tampaknya sepasang mahasiswa yang mempunyai hubungan sepesial. Secara ajaib, dia menyerobot antrian dan langsung bilang, nasi ayam, dua. Ah, dasar anak muda! Tidak berapa lama, datang ibu-ibu yang habis itikaf dari masjid kampung sebelah (kesimpulan saya begitu, karena beliau masih memakai mukena dan saya ndak pernah melihat beliau di masjid dekat rumah). Dan ndak kalah ajaibnya dia langsung bilang, bubur pake telor, tiga! Saya dan bapak-bapak di depan saya pun hanya bisa cengar-cengir kecut.

Beberapa lama, akhirnya sang bapak di depan saya dilayani, dan datang dua orang ibu-ibu lagi. Sang bapak itupun selesai dilayani dan dengan ndak mau kalah ajaib, salah satu ibu itu nyerobot saya, dan bilang. Dada ayam dua!

Orang sabar disayang Tuhan katanya, maka saya perpanjang stok kesabaran saya. Dan, setelah selesai ibu itu dilayani, ibu yang kedua tampaknya ndak kalah ajaibnya. Nasi gudeg, tiga!

Auouooo! Rasanya pengen tereak-tereak nyaingi Tarzan karena saking gondoknya.

Wah, jam empat kurang seperempat. Sudahlah, saya bikin mie instan saja…

Buat mas dan mbak mahasiswa, begitu ya yang kalian dapat di kampus? Buat ibu yang habis i’tikaf, bu, di Islam juga ada konsep Hablum Minannas, dan buat kedua ibu ajaib dan juga yang jual bubur. Imsak saya juga sama bu! Saya ndak imsak jam enam!

She’s A Duelist!

Ada seorang teman saya, (kalo dia masih mau ngakuin lho ya?) Yang akhir-akhir ini berubah 180 derajat dari yang pertama saya kenal dulu.

Dulu, dia orang yang ramah, baek, juga taat. Pokoke interesting! Nha, saya pengen belajar banyak dari dia.

Tapi, entah kena setan apa, makin kesini kok makin aneh ya? Makin jadi pemarah, ndak common sense, dan maunya menang sendiri…

Subjektip memang, wong itu semua menurut pandangan saya. Tapi tapi tapi, akhir-akhir ini, kok makin ndak common sense ya? Makin wagu ramutu menurut saya.

She’s a duelist. Seperti judul postingan ini. Ndak ada ujan ndak ada angin, kok hobinya cari perkara ya? Kayake kalo gak debat kusir, gak marah-marah jadi gatel-gatel ya? Maunya beranteem terus :mrgreen:

Ada yang tau why seseorang tiba-tiba jadi mbegitu? Pengen kawin kali ya? :mrgreen:

Bank Super Ngejek

Beberapa waktu yang lalu, mantan pegawaine bapak saya dateng, dan minta tolong pada bapake untuk mencarikan pinjeman bank.

Karena bapake saya itu bukan orang bank, maka pak mantan itupun dianter sama bapak ke salah satu bank di mBantul buat mengajukan kridit sebesar dua puluh lima juta. Singkat kata, administrasi sudah lengkap, dan tinggal survey. Dan beberapa hari kemudian, dihubungilah pak mantan itu, dan menyatakan kalau kreditnya diterima. Senanglah bapak itu, setidaknya sampai sini.

Selamat Pak, anda bisa mencairkan kredit anda sebesar tiga juta rupiah…

Kesenangan itu sontak berubah menjadi kemarahan. Lha gimana toh? Wong pengajuan 25 juta kok cuma dikabulkan 3 juta. Bahkan ditolak pun masih lebih terhormat dari itu. Secyara (ceile bahasanya) jaminannya tanah pekarangan. Lha wong jaminan motor saja bisa dapat 5 juta. Masa pekarangan cuma 3 juta? Ayolah… Get a common sense!

Jadi curiga… Apakah sebenarnya yang disetujui lebih dari itu, tapi hanya disampaikan segitu, karena yang lain didomplengi oknum. Sehingga sang oknum bisa numpang ngutang tanpa agunan?

Ndak sembodo tenan dengan program pemerintah KUR itu. Lha wong bank itu bank pemerintah, diajui pinjaman yang jumlahnya masih skala rakyat. Kok malah dipersulit, diejek secara implisit, dan malah dieksploitasi?

Perbankan negeri kita memang ndak pernah adil. Beberapa orang ngemplang triliunan didiemkan saja. Beberapa orang pekerja keras, yang sungguh-sungguh ingin mengembangkan usahanya, cari pinjeman beberapa juta, malah dipersulit, dipenuhi prasangka kalo dia bakalan ngemplang, lari, bahkan gak kuat bayar…

Fake ID. Anyone?

Penasaran dengan film-film di tipi, kayaknya mapia-mapia itu enak bener ya? Ganti nama, alamat dan membersihkan catatan kriminal. Halah…

Berbekal semangat keingintahuan soal gelapologi ini, saya pun cari-cari, kontak sana kontak sini, tanya sana tanya sini, eh ketemu juga. Ada lho jasa macam ituh!

Make your own ID hanya dengan tiga ratus ribuan! Nama? Bebas! Alamat? Asal tidak beralamat di rumah pejabat/mantan pejabat publik. Lagian, mana ada yang percaya, kalo misalnya katepe saya beralamat di Jalan Cendana no. 8, Jakarta :mrgreen:

So? Fake ID, anyone?

Ilmu Katanya

Pagi-pagi buta, menjelang sahur, saya disemprot oleh seorang teman saya, yang kebetulan jadi bos sebuah warnet di jogja ( sekali lagi jangan tertawa, ada juga orang penting yang mau berteman sama saya… :mrgreen: ). dia bilang saya mau merusak warnetnya…

Lha saya bilang, bukti’e apa? Dia bilang, ada yang nginjek -meng-injek, bukan injek dengan kaki- pirus di warnet nya dia, waktu itu, sang injektor lupa mematikan radmin nya, dan believe it or not, tapi kudu believe, setiap warnet memang memasang remote admin, di setiap client nya, demi kebaikan bersama jugak…

Nha, kebetulan sang injektor ini waktu itu sedang chat sama saya, dan kebetulan juga, sang menejer yang tampaknya mempunyai sentimen pribadi sama saya ituu sedang melakukan tugas hariannya….

Nha kok, yang sampe ke telinga bos yang kebetulan jadi teman saya itu, jadinya saya nyuruh sang injektor buat ngrusak warnet dia. Hadeeeeh…..

Mbok ya dipikir!

  1. Si Bos ngaku sendiri kalo dia sedang tidak berada di lokasi waktu itu, dia hanya mendengar laporan. (nah, ilmu katanya)
  2. Si Bos juga tahu, kalo sang manajer, entah dengan alesan apa, mempunyai sentimen negatif terhadap saya… Gitu dipercaya…
  3. Si Bos bilang bla bla bla (lupa saya, malem itu emosi juga seh, orang ngantuk-ngantuk disemprot) pokoke soal hukum dan pulisi. (memang si bos kakak angkatan saya di jurusan hukum salah satu universitas di jogja), tapi apa iya, hukum bisa menerima laporan berdasarkan katanya? Saya sih, ndak ngambil hukum di universitas itu…
  4. Trus, kalo saya chat sama orang, orang itu KATANYA melakukan sesuatu yang ndak baik, conclusion nya saya yang suruh gituh?

Bos, think again, kalo kamu baca tulisan ini, mau ngamuk sejadi-jadinya ma saya, ya saya pasrah wae lah, yang jelas saya masih lelaki, saya siap bertanggung jawab, atas apa yang saya perbuat. HANYA yang saya perbuat, bukan yang KATANYA saya perbuat, apalagi berujung pada conclusion yang SANGAT MENGGELIKAN.
Wassalam, BOS…