Kalo ditanya, Pernahkah sampeyan punya teman baik? Ya. Sepanjang hidup saya, teman baik datang dan pergi. Lho? Kok? Apakah saya termasuk orang yang menganggap teman baik itu cuma teman yang menguntungkan bagi saya? Bisa jadi… Tapi ya, begini. Biar saya cerita dulu, kenapa teman baik saya, datang dan pergi.
Ndak ada yang tidak berubah di duniya ini, setuju ndak? Dari situ lah alasan saya bermula.
Beberapa tahun yang lalu, saya adalah seorang yang meski belum bisa dibilang kaya, tapi bisa dibilang kecukupan lah. Hampir semua yang saya mau, bisa saya usahakan dengan apa yang saya miliki. Juga, hampir selalu bisa membantu teman, sebelum cobaan Gusti Pengeran itu terjadi. –kalo ndak salah pernah saya singgung dalam post saya sebelume–. Dengan keadaan itu, jelas lah, teman baik –atau yang setidaknya pura-pura baik– saya banyak.
Lalu, cobaan Gusti Pengeran itu datang. Teman yang saya percayai usaha bareng sama saya menggelapkan uang usaha kami, dan menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi usaha itu. Memang bagi beberapa orang, kerugian itu “hanya” seharga Kijang Innova saja. Tapi bagi saya, itu menghabiskan tabungan saya, mematikan sumber pendapatan saya, yang terpaksa harus tutup, mengacakadut kuliah saya. Dan menghilangkan teman-teman saya. Fiuh…
Itu hal pertama, selanjutnya ada juga teman saya yang ogah kenal lagi sama saya, karena dia sudah sukses, hidupnya sudah enak, dan ndak mau direpoti oleh saya yang lagi kacau balau.
Trus, ada juga, teman saya yang jadi jauh karena saya yang menjauh. Lho? Menjauh? Iya! Dalam kasus ini, temen saya itu sudah jadi orang penting yang sibuk terus, atau selebritis yang sering masuk tipi. –jangan tertawa, seorang yang sering masuk pegadaian punya temen yang sering masuk tipi. Ndak percaya juga boleh.–
Tapi, saya bersyukur. Saya ndak melulu kehilangan teman. Ada juga teman baik yang justru datang saat saya amburadul. Dhen Kaboel misalnya, dia jadi teman baik saat saya hancur, dan malah sekedar kenal waktu saya jadi “orang”. Juga ada temen-temen baru saya macam Joni SWAT (thanks Dhen Kaboel sudah mengingatkan), Si Ncon, Bernad Dhoyox, Kuda, Westnu Sempak, dan Alhamdulillah banyak lagi. Tak bisa dilupakan juga temen saya yang teteup tidak berubah. Macam Si Suryo, Ryan sang penjagal Jageran, Yuda, juga Mas Agus Pengkit.
Bagaimanapun, tengkyu ya pren, dah bikin hidupku berwarna. Buat yang pada mbaca, –kalo ada
— saya yakin. Hidup sampeyan belum tentu seberwarna saya…