Semua tulisan dari Hamid

Satu Tahun

Harusnya hari ini satu tahun di ibukota sih. 20 Desember tahun lalu, saya diajak buat bantu-bantu #kepalasuku di sebuah perusahaan hape.

Tapi, ternyata, gak sampe satu tahun saya bekerja di situ. Dan sekarang balik lagi ke nDesa, membantu Den Mas Lantip. Membantu apa? Anggaplah nanam jagung, dianggap begitu saja lah. Saya juga ndak keberatan kok. Hepi malah. Hihihi.

Jadi, di Jakarta, ibu kota endonesa ngapain wae? Ya banyak lah. ya ini ya itu. Ya kerja, ya magabut, ya main. Agak beribet buat diceritakan. Happy? Somewhat. Ketemu banyak orang baik, teman, keluarga, sampek tetangga di sana. Gak happynya cuma berat diongkos. :mrgreen:

Eniwei, minta doanya ya temans, semoga hidup saya tansah barokah šŸ™‚

Dalil

Ini dalilnya apa? Itu Dasarnya apa?

Sering kali saya dengar pertanyaan semacam itu. Meskipun sering kali tidak ditujukan kepada saya, tapi dengan mendengarnya saja saya sudah merasa aneh.

Kenapa semuanya mesti mempertanyakan dasar atau dalil? Bukankah Tuhan sudah mengkaruniakan otak dan hati kepada kita? Kenapa itu tidak pada dipakai?

Takut Bid’ah

Jangan konyol, hal baik tentulah gak pernah divonis dosa. Kalaupun ada yang memfatwa atau memvonis dosa karena melakukan hal baik hanya karena gak ada dasar atau dalilnya, jelaslah dia bukan ulama atau panutan saya.

Tapi itu perintah Tuhan! — Oh. Oke, mungkin Tuhan kita berbeda.

Sebelas

Sebelas bulan, waktu yang bisa dibilang lama, kurang sak encritan sudah bisa disebut satu tahun.

Sebelas bulan, saya melihat kumpeni tempat saya bekerja berkembang dengan lumayan. Ā Hampir tiap hari ada perekrutan karyawan baru di tempat saya bekerja, hingga mulai banyak orang-orang baru, yang mulai tidak kenal satu sama lain. Kumpeni yang waktu saya datang pertama kali gak begitu jauh beda dengan ruko, sekarang sudah mulai membangun gedung baru yang jauh lebih luas.

Sebelas bulan, saya numpang hidup (lagi) di Jakarta, bertemu banyak teman baru, maupun bertemu teman lama (lagi). Berbagi cerita seneng maupun susah, yang tak jarang membuat tertawa, meringis, dan kadang hampir menangis.

Matur nuwun, Jakarta! Sampeyan memang gila…

Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Malam Minggu, dua harian yang lalu, cukup cerah, dan daripada menjadi gila pelan pelan, saya putuskan sahaja pergi ke keramaian kota, karena sekalian ada urusan disana.

Urusan pertama saya adalah ke sebuah kantor di bilangan Gambir, sekitaran Monumen Nasional. Urusan yang simpel, dan gak butuh waktu terlalu lama. Hanya sekitar setengah jam saya berurusan di situ. Selesai urusan, saatnya sedikit represing barengĀ Oom iniĀ di bilangan Sudirman. Mayan jauh, tapi toh ada transportasi ala Jakarta bernama transjakarta atau orang sering bilang busway.

Dari arah tempat urusan saya tadi, saya mesti berjalan kaki kurang lebih satu kilometer ke shelter busway terdekat. Jadilah saya berjalan kaki di Jakarta. Trotoar jelek, galian, parkir sembarangan, sebut sajalah. Sudah #biyasa saya hadapi. Lanjutkan membaca Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Musim Hujan

Jakarta sudah mulai musim hujan lagi, mengingatkan saya akan bermulanya salah satu potongan kehidupan saya. Kehdupan yang yah… Kek rujak lah, macem-macem, gak begitu jelas, tapi dengan adanya bumbu-bumbu yang kebetulan tepat, bisa juga dibilang cukup enak.

Saya datang ke Jakarta raya ini untuk kembali menjadi pekerja saat musim hujan, hampir setahun yang lalu. Orang iniĀ adalah orang yang paling bertanggung jawab atas datangnya saya ke ibukota Indonesia ini (lagi).

Gak terasa, musim hujan sudah datang lagi, dan itu berartiĀ sudah berbulan-bulan hampir setahun, saya kerja di sini. Kerja di sebuah pojok Jakarta. Yang kalau kata salah seorang teman saya, kalau dilepas disini pun dia gak bisa pulang lagi. :mrgreen:

Dan lalu, saya dipanggil pulang oleh orang ini, untuk menjadi tandem sodara beliau lagi di kota kelahiran saya.

Dan lalu, saya pun bersiap, menyiapkan hati hati dan perasaan, untuk pulang. Yang ternyata tidak mudah, mempersiapkan diri untuk meninggalkan beberapa fragmen kehidupan saya yang terlanjur terbentuk di sini.

Ah iya, saya paling gak bisa packing šŸ˜†

Because They’re Successful

Because they’re successful, Ballmer. Success is a menace. It fools smart peopleĀ into thinking they can’t lose. — Gates to Ballmer

 

Quote di atas adalah penggalan sebuah dialog di film Pirates of Silicon Valley, film yang sudah cukup lama sebenarnya. Tayang perdana tahun 1999, tapi mendadak tenar lagi setelah kepergian Steve Jobs.

Saya gak akan membahas soal Steve Jobs, Bill Gates atau film itu sendiri. Tapi sebuah dialog yang ada di film itu. Dialog yang kemudian saya quote itu bikin saya bergumam, oh, wow! Iya juga ya?

Menjadi semakin manggut-manggut dengan quote dari film itu ketika melihat di sekitar saya beberapa individu atau perusahaan di sekitar saya yang sudah sukses, sangat sukses malah. (meskipun sukses itu relatif, yang jelas mereka jauh lebih kaya dari saya).

Anti kritik

Dan merekapun menjadi apa yang saya sebut dengan anti kritik. Semua masukan-masukan hanyalah dianggap protes ketidakpuasan, karena iri dan sejenisnya dan sejenisnya. Termasuk masukan dari orang dari orang-orang yang sebenarnya justru berniat membangun, menjadikan mereka lebih baik.

Mereka tidak lagi menganggap masukan-masukan yang datang ke mereka sebagai sebuah niat baik. Mereka anggap itu semua demotivationalĀ belaka.Mereka pikir, siapa sih orang-orang itu? Pasti cuma sekumpulan tukang protes yang iri dengan kesuksesan. Tukang-tukang protes itu mengkritik, dan tak jarang sangat keras, karena mereka tidak bisa menjadi bagian dari kita. Tidak bisa menjadi seperti kita. — kata mereka yang sukses.

Hamid, sedang koprol menjauh dari orang-orang yang sudah berubah warna.

Apa Yang Mereka Bilang Itu Benar

Pernah gak terganggu, dengan orang yang membicarakan (seringnya) hal yang kurang baik dibelakang kita. Dibilang begini, begitu atau bagaimanalah. Mungkin sampeyan termasuk orang yang beruntung, atau mungkin memang bener-bener orang baikĀ kalau tidak pernah.

Berbeda dengan saya, saya yakin, kalau sekali dua kali orang membicarakan saya dibelakang saya. Dan pastinya ada yang menurut common senseĀ itu kurang baik.

Kesel, marah atau apapun, ketika orang lain berubah pandangan sehabis pembicaraan itu, wajar. Tapi balik lagi saya sadari. Seburuk apapun orang bilang tentang saya, ada sebagian yang pastinya benar. DenialĀ adalah hal pertama yang terpikirkan oleh saya. Sekaligus, hal itu adalah hal yang paling mudah bisa saya lakukan. Tapi…

Hey, pada dasarnya mereka itu benar, hanya mungkin sedikit ditambah bumbu khas pergunjingan, sentimen dan miskomunikasi. Dan jadilah seperti apa yang mereka bilang. Dan, sekali lagi saya bilang, pada dasarnya…

Apa yang mereka bilang itu benar.

Cuma, kembali ke pilihan sampeyan, mau langsung percaya haqul yakin, atau bertanya dulu kepada saya, apa iya dan kenapa bisa begitu.

Hamid, karena batas free speech dan hate speech itu lebih tipis dari kelambu #melantip

Sandiwara Radio

Entah kenapa saya kangen dengan sandiwara radio jadul. Sandiwara jaman jaman Pedang Naga Puspa atau Nini Pelet. Agak absurd memang, tapi saya merindukan saat saat itu.

Saat saat dimana saya tidak banyak kekhawatiran kekhawatiran dan beban. Saat saya tidak bisa lagi memikirkan apa lagi yang bisa membuat saya lebih bahagia.

Dan, entah kapan lagi saya mengalami lagi perasaan-perasaan itu. Semoga saja tidak lama. Seperti kata Om Roy, semoga saja semesta lekas mendukung, dan Gusti Pangeran tinggal mengiyakan saja šŸ™‚

Aminin dong pren!

Cerita Dari Pojok Jakarta

Sementara saya menulis ini, ada garis mati nulis manual buat anak-anak marketing kumpeni yang sungguh unyu bin kemampleng itu. Dan, meja sebelah muter musik 8 bit khas Mario Bros.

Yah kira-kira begitulah keadaan saya, sebagai pekerja rata-rata Jakarta. Bedanya, saya gak berada di gedung tinggi, tapi di salah satu pojok Kota Jakarta. Sunter namanya. Jakarta yang sekali lagi ndak ada Jakarta Jakartane blass.

Kok betah sih di Jakarta? Kalau aku sih sudah amit-amit ogah hidup di Jakarta. Macet, apa-apa mahal, kadang banjir, orang-orangnya gak asik. — Tanya seorang teman saya.

Mau maunya sih jadi pekerja? kalau saya sih ogah jadi pekerja, cuma nambah kaya pemilik perusahaan, hari Senin selalu hectic, waktunya terikat, gak bebas, yada yada yada — Tanya seorang teman saya yang lain.

Entahlah, pertanyaan pertanyaan itu kadang saya pikir semacamĀ ofensif. Secara gak langsung seperti pada bilang, your life sucks, mendingan hidup saya. Kira kiraĀ begitulah esensi yang saya tangkap dari batin tersensi saya.

Dan sayapun cuma bisa bilang, kepada orang-orang yang bahkan sebagian gak memberi saya makan itu…

Bot abote wong golek pangan mas…

Jadi, Bagaimana Hidup?

Harusnya, pengen bilang How’s life. Tapi keliatane kok keminggris ya? Jadilah diIndonesiakan. Mau bilang, jadi bagaimana kehidupan kok rasanya terlalu serius. Jadi, halah munyer. Begitulah akhirnya saya menjuduli posting ini.

Si hidup ini baik baik saja, ada sedikit badai dalam kehidupan, biasa lah. Terombang ambing sana-sini, ndak masyalah. Kalau seorang temen lama saya bilang, kalau nggak terombang ambing, hidup rasanya kurang nyeni.

Delapan bulan di ibukota Indonesia (lagi). Hati saya terbagi. Sebagian fragmen hati saya berada di Jogja bersama keluarga dan teman-teman baik saya. Dan sebagian fragmen hati saya berada di Jakarta, ibukota Indonesia bersama pekerjaan, angan-angan dan orang-orang baik yang banyak membantu saya.

Jadi, bagaimana hidup? Baik baik saja. Bagaimana hati dan pikiran? Itu yang saya juga tidak tahu…